Bagian III

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI i

GAMBARAN UMUM PENYELENGGARAAN DIKLAT 1

PENYESUAIAN KURIKULUM 3
1. Pengertian 3
2. Tujuan 3
3. Langkah Kerja 3
a. Pengkajian Kurikulum Nasional 5
b. Identifikasi Kompetensi yang Dibutuhkan Lapangan Kerja 5
c. Penentuan Model Kelas Industri dan Kelas Wirausaha 6
d. Penyusunan Kurikulum Implementatif 7
e. Legalisasi Kurikulum Implementatif 7

IMPLEMENTASI KURIKULUM 9
1. Pengertian 9
2. Tujuan 9
3. Langkah Kerja 9

PENYUSUNAN PROGRAM PEMELAJARAN 10
1. Pengertian 10
2. Tujuan 10
3. Langkah Kerja 10

PELAKSANAAN PEMELAJARAN 16
1. Pengertian 16
2. Tujuan 16
3. Langkah Kerja 16

PENILAIAN HASIL BELAJAR 22
1. Pengertian 22
2. Tujuan 22
3. Langkah Kerja 22

ADMINISTRASI DAN PELAPORAN HASIL BELAJAR 27
1. Pengertian 27
2. Tujuan 27
3. Jenis Administrasi dan Pelaporan 27

DUKUNGAN MUTU PENDIDIKAN 30
1. Rasional. 30
2. Ruang Lingkup Dukungan 30
GAMBARAN UMUM
PENYELENGGARAAN DIKLAT
Pendidikan di sekolah merupakan sebuah sistem yang terdiri atas input, process dan output. Input atau masukan adalah lulusan SMP/MTs yang menjadi peserta didik SMK, process merupakan kegiatan pemelajaran, sedangkan output atau keluaran adalah lulusan SMK yang kompeten. Pada proses pemelajaran, peserta didik mengikuti program pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan acuan kurikulum.

Penyusunan program penyelenggaraan diklat secara makro diawali dari pengkajian perlu tidaknya membuka atau menutup suatu program keahlian yang merupakan tindak lanjut dari program re-engineering, dilanjutkan dengan penyesuaian kurikulum dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah, proses pemelajaran, pelaksanaan uji dan sertifikasi kompetensi, dan diakhiri dengan penyaluran tamatan.

Alur pikir penyelenggaraan diklat dimaksudkan untuk memberi kerangka berpikir dan kerangka kerja yang sistematis pada setiap kegiatan, dapat divisualkan sebagaimana Gambar 1 (Alur Penyelenggaraan Diklat). Hal ini dilakukan agar kedudukan, hubungan, dan kontribusi dari setiap kegiatan terhadap pencapaian tujuan diklat, yakni lulusan bersertifikat kompetensi atau bersertifikat profesi menjadi jelas. Bagan alur penyelenggaraan diklat tersebut secara makro merupakan standar prosedur operasional yang harus diacu oleh sekolah dan pihak terkait.

PENYESUAIAN KURIKULUM
1. Pengertian

Penyesuaian kurikulum adalah kegiatan pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh sekolah dan pihak terkait dalam upaya menyesuaikan kurikulum nasional terhadap tuntutan kebutuhan daerah dimana sekolah berada. Ruang lingkup penyesuaian kurikulum dapat berupa penajaman program keahlian, penyesuaian substansi atau materi pemelajaran, dan penyesuaian strategi pemelajaran.
2. Tujuan

Penyesuaian kurikulum bertujuan untuk menyelaraskan tujuan, isi, dan strategi pemelajaran Kurikulum SMK yang berlaku secara nasional terhadap tuntutan kebutuhan dan kondisi lapangan kerja yang menjadi target pemasaran tamatan, sehingga diperoleh kurikulum implementatif.
3. Langkah Kerja

Langkah kerja atau prosedur penyesuaian kurikulum ini merupakan standar prosedur operasional (SPO) yang harus diikuti oleh jajaran sekolah dalam melaksanakan kurikulum yang dijabarkan dalam langkah kerja sebabgai berikut:

a. pengkajian kurikulum nasional;
b. identifikasi kompetensi yang dibutuhkan lapangan kerja;
c. penentuan model kelas;
d. penyusunan kurikulum implementatif;
e. legalisasi kurikulum implementatif.

Langkah kegiatan selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2 Standar Prosedur Operasional (SPO).

BAGAN ALIR DESKRIPSI PENANG-GUNG JAWAB UNSUR TERKAIT HASIL
Mengkaji Kurikulum SMK Nasional sebagai acuan pengembangan kurikulm mplementatif

Ka. SMK
Waka. Kurikulum
Seluruh Guru
Inst. Pasangan
Komite Sekolah

Dokumen hasil kajian Kurikulum SMK

Mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan lapangan kerja setempat

Institusi Pasangan
Waka. Kurikulum
Guru
Inst. Pasangan
Komite Sekolah
Profil kompe-tensi yang di-butuhkan la-pangan kerja
Sekolah menentukan model kelas industri dan wirausaha. Kelas wirausaha dipersiap-kan untuk siswa yang mempunyai bakat berwirausaha

Kepala Sekolah
Waka. Kurikulum
Ka.Program
Guru
Inst. Pasangan
Komite Sekolah
Penentuan model kelas

Menyusun kurikulum implementatif sesuai dengan strategi yang dipilih
Komite Sekolah
Inst. Pasangan
Ka SMK
Dinas Diknas Propinsi

Kurikulum Implementatif
Legalisasi hasil penyesuaian
Dinas Pendidikan

Inst. Pasangan
Ka SMK
Dinas Diknas Propinsi
Kurikulum Implementatif yang legal

Gambar 2. Standar Prosedur Operasional (SPO)
Penyesuaian Kurikulum SMK

a. Pengkajian Kurikulum nasional

Pengkajian kurikulum adalah upaya pemahaman dan penelaahan kurikulum nasional oleh seluruh unsur terkait dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di SMK. Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang kebijakan, arah, program dan pengembangan kurikulum SMK dalam upaya peningkatan mutu pendidikan menengah kejuruan.

Pelaksanaan pengkajian kurikulum melalui kegiatan workshop yang melibatkan para guru, tenaga kependidikan lainnya, industri, dan pakar untuk mendapatkan hasil antara lain sebagai berikut:

1) pemahaman landasan, program dan pengembangan kurikulum SMK;
2) pemahaman isi dan materi yang terdapat pada Kurikulum SMK Edisi 2004, sesuai dengan program keahlian yang dibuka di SMK;
3) pemahaman standar prosedur operasional pelaksanaan kurikulum SMK.

Pengkajian kurikulum ini menghasilkan pemahaman dan persepsi yang sama terhadap dokumen kurikulum SMK secara menyeluruh.

b. Identifikasi Kompetensi yang Dibutuhkan di Lapangan Kerja

Identifikasi kompetensi yang dibutuhkan di lapangan kerja merupakan kegiatan pengumpulan data tentang kompetensi yang dibutuhkan lapangan kerja pada suatu bidang pekerjaan tertentu serta penetapan kompetensi yang perlu dipelajari siswa SMK pada program keahlian terkait. Hasilnya digunakan sebagai dasar penyusunan kurikulum yang akan diimplementasikan di SMK.

Pelaksanaan identifikasii kompetensi yang dibutuhkan di lapangan kerja mengikuti langkah sebagai berikut:

1) mengumpulkan data lapangan langsung dari dunia usaha/industri (data primer) atau dari berbagai sumber lain tentang kompetensi yang dibutuhkan di lapangan kerja (data sekunder) sesuai dengan program keahlian yang dibuka di SMK yang bersangkutan;
2) hasil pengumpulan data tentang kompetensi tersebut kemudian ditetapkan dan dirumuskan dalam bentuk profil kompetensi lulusan untuk setiap pekerjaan/tugas pada jenjang/jabatan yang relevan dan ada di lapangan kerja.
3) Berdasarkan hasil identifikasi kompetensi tersebut dimungkinkan terjadi penyesuaian berupa penajaman program keahlian, dan atau penyesuaian substansi/ materi pemelajaran.
4) penajaman program keahlian dilakukan jika sekolah harus memenuhi permintaan tenaga kerja yang memerlukan spesialisasi yang lebih tajam dari program keahlian yang ada, misalnya konsentrasi Budidaya Kelapa Sawit pada Program Keahlian Budidaya Tanaman, konsentrasi Kria Perhiasan Batu Permata pada Program Keahlian Kria Logam.

5) Penyesuaian substansi atau materi pemelajaran dilakukan, jika lapangan kerja menuntut keragaman komoditas/produk/jasa program keahlian yang bersangkutan. Sebagai contoh, di Jawa Barat karena terdapat berbagai komoditas pertanian unggulan cabai, tomat, jagung, maka materi disesuaikan dengan kebutuhan berbagai komoditas tersebut.

c. Penentuan Model Kelas Industri dan Kelas Wirausaha

Penentuan model kelas dilakukan jika sekolah ingin memenuhi tuntutan kebutuhan individual peserta didik, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan potensi berwirausaha dan sebagai pekerja industri. Peserta didik yang mempunyai bakat wirausaha dimungkinkan menempuh model pemelajaran kelas wirausaha sedangkan yang lainnya tetap menempuh model pemelajaran kelas industri.

Kelas industri merupakan kelas reguler bagi siswa yang menginginkan bekerja untuk pihak lain setelah lulus, sedangkan kelas wirausaha adalah kelas khusus untuk siswa yang berminat mengembangkan wirausaha. Peserta diklat kelas wirausaha mempelajari kompetensi-kompetensi yang dipelajari peserta diklat kelas industri ditambah kompetensi wirausaha.

Penentuan kelas industri dan kelas wirausaha adalah upaya untuk mengidentifikasi talenta peserta didik dan mengembangkan program pemelajaran untuk memperoleh strategi pemelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing peserta didik, yaitu menjadi wirausahawan (bekerja mandiri) atau bekerja sebagai pegawai di industri/dunia usaha.

Penentuan model kelas industri dan kelas wirausaha bertujuan untuk melayani siswa sesuai dengan minatnya. Siswa yang yang mempunyai minat berwirausaha diarahkan untuk mengikuti kelas wirausaha agar dapat mengembangkan kemampuan dalam berwirausaha.

Penentuan model kelas industri dan wirausaha dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

1) informasi ke peserta didik tentang program kelas wirausaha dan kelas industri;
2) test bakat dan minat;
3) penentuan model kelas yang dipilih.

d. Penyusunan Kurikulum Implementatif

Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja setempat dan daerah tempat dimana lulusan diproyeksikan akan bekerja. Penyusunan kurikulum implementatif merupakan kegiatan transformasi kompetensi yang dibutuhkan oleh lapangan kerja setempat dan daerah lain yang menjadi sasaran pasar kerja lulusan yang belum tercantum dalam Kurikulum SMK Nasional, ke dalam format kurikulum yang akan digunakan sebagai acuan pemelajaran di SMK.

Kompetensi-kompetensi yang akan dilatihkan adalah kompetensi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja yang menjadi target pasar lulusan. Penyusunan kurikulum implementatif dilakukan sesuai dengan strategi yang dipilih sekolah.

Langkah-langkah penyesuaian kurikulum menggunakan strategi penajaman program keahlian adalah sebagai berikut:

1) merumuskan dan menambahkan kompetensi khusus sesuai kebutuhan penajaman spesialisasi menjadi tenaga kerja spesialisasi yang belum tertuang pada kurikulum nasional;
2) merumuskan deskripsi pemelajaran untuk kompetensi khusus yang ditambahkan, dengan menggunakan format kurikulum SMK yang berlaku.

Langkah-langkah penyesuaian substansi atau materi kurikulum adalah sebagai berikut:

1) menganalisis materi atau substansi kurikulum nasional yang perlu ditambah atau dikurangi;
2) merumuskan materi kurikulum yang perlu ditambahkan;
3) menataulang urutan (sekuensi) materi pokok pemelajaran.

Langkah-langkah penyesuaian model pemelajaran adalah sebagai berikut:

1) menganalisis kebutuhan siswa dan karakteristik tempat pemelajaran;
2) menyesuaikan strategi pemelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakteristik tempat pemelajaran;
3) Menghasilkan draf dokumen Kurikulum SMK Implementatif.

e. Legalisasi Kurikulum Implementatif

Legalisasi kurikulum implementatif merupakan kegiatan pengesahan draf dokumen kurikulum implementatif menjadi dokumen kurikulum resmi sebagai acuan pemelajaran di SMK.

Penyesuaian kurikulum berupa penajaman program keahlian atau konsentrasi program keahlian. Pengesahan dilakukan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota setempat, dan selanjutnya dilaporkan ke dinas pendidikan provinsi dan Direktorat Dikmenjur.

Penyesuaian kurikulum yang berupa penyesuaian substansi atau materi pemelajaran dan penyesuaian model pemelajaran didokumentasikan sesuai dengan format yang berlaku dan disahkan oleh kepala sekolah bersama ketua komite/majelis sekolah.

IMPLEMENTASI KURIKULUM
1. Pengertian

Implementasi kurikulum adalah kegiatan pemelajaran peserta diklat untuk mencapai kompetensi yang direncanakan dalam kurikulum yang akan digunakan. Satu prinsip pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi adalah bahwa pemelajarannya dilaksanakan secara modular.
2. Tujuan

Implementasi kurikulum bertujuan untuk melakukan pemelajaran agar diperoleh kompetensi sesuai dengan yang tercantum dalam kurikulum.
3. Langkah Kerja

Implementasi kurikulum, baik model kelas wirausaha maupun kelas industri dilakukan melalui kegiatan-kegiatan berikut:

a) penyusunan program pemelajaran
b) pelaksanan pemelajaran
c) penilaian hasil belajar

PENYUSUNAN PROGRAM PEMELAJARAN
1. Pengertian

Penyusunan program pemelajaran adalah kegiatan merencanakan proses pemelajaran peserta diklat untuk mencapai kompetensi. Rencana pencapaian kompetensi disusun oleh peserta diklat dengan bimbingan guru. Rencana ini mencakup model pemelajaran kelas industri dan kelas wirausaha.
2. Tujuan

Penyusunan program pemelajaran bertujuan untuk menyiapkan acuan pelaksanaan pencapaian kompetensi bagi peserta diklat dan acuan pelaksanaan mengajar bagi guru atau pembimbing. Keberadaan acuan tersebut memungkinkan proses pemelajaran akan terarah sehingga dapat dievaluasi dan dipertanggungjawabkan secara objektif.
3. Langkah Kerja

Penyusunan program pemelajaran dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

a) penjelasan mengenai pemelajaran modular;
b) penawaran paket kompetensi dan jadwal diklat;
c) penyusunan program pencapaian kompetensi;
d) penyusunan rencana pemelajaran per kompetensi.

Langkah-langkah penyusunan program pemelajaran selengkapnya dapat dilihat dalam Gambar 3 Standar Prosedur Operasional Penyusunan Program Pemelajaran berikut.

ALUR PROSES DESKRIPSI PENANGGUNG JAWAB UNSUR TERKAIT HASIL

Guru pembimbing menjelaskan tatacara pemelajaran modular
Guru pembimbing
Peserta diklat

Guru pembimbing menawarkan kompetensi-kompetensi dan jadwal pelaksanaannya
Guru pembimbing
Waka Bidang Kurikulum
Guru BP/BK
Guru pembimbing
Dokumen jenis kompetensi dan jadwal terinformasikan kepada peserta didik
Peserta diklat menyusun program pencapaian kompetensi
Guru pembimbing
Kartu Rencana Studi Siswa (KRS)

Menyusun rencana pemelajaran per kompetensi
Guru pembimbing
Waka Kurikulum
Penanggung jawab/Pengelola sumberdaya

Dokumen Rencana Pemelajaran per Kompetensi

Gambar 3.
Standar Prosedur Operasional Penyusunan Program Pemelajaran

a. Penjelasan Pemelajaran Modular

Pemelajaran berbasis kompetensi dilaksanakan melalui pemelajaran modular yaitu tata cara pemelajaran yang terdiri dari satuan-satuan unit kompetensi utuh yang ditempuh secara bertahap. Peserta diklat harus menyelesaikan satu unit kompetensi secara utuh sebelum melanjutkan ke kompetensi berikutnya. Bahan ajar untuk setiap unit kompetensi dapat dikemas dalam bentuk modul yang dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta diklat.
Penjelasan pemelajaran modular adalah kegiatan guru pembimbing untuk membekali peserta didik mengenai tatacara pemelajaran paket-paket (modul) kompetensi. Penjelasan itu perlu diberikan karena pemelajaran modular menuntut agar siswa belajar secara mandiri. Penjelasan dimaksud berangkat dari asumsi bahwa pemelajaran berbasis kompetensi ini sudah dilengkapi dengan bahan ajar dalam bentuk modul, dari manapun asalnya termasuk modul yang disiapkan oleh guru.

b. Penawaran kompetensi-kompetensi dan jadwal diklat

Penawaran kompetensi-kompetensi dan jadwal diklat adalah penjelasan tentang kompetensi-kompetensi apa dan paket kewirausahaan apa yang dapat dipelajari pada satu satuan waktu belajar tertentu disertai jadwal pelaksanaannya kepada peserta diklat.

Penawaran kompetensi-kompetensi dan jadwal diklat bertujuan agar peserta diklat dapat mengetahui kompetensi-kompetensi yang dapat dipelajari dan paket kewirausahaan yang dapat diikuti dalam satu satuan waktu tertentu, jadwal pelaksanaan proses pemelajaran, serta prosedur penyusunan Kartu Rencana Studi.

Pelaksanaan penawaran kompetensi-kompetensi dan jadwal diklat mengikuti langkah berikut:

1) Ketua/penanggung jawab program keahlian dan pihak yang terkait menyusun rencana kegiatan pemelajaran secara bersama-sama. Hal-hal yang harus disiapkan terutama adalah bahan tertulis tentang tatacara belajar berbasis kompetensi, jadwal, pengaturan ruang belajar (kelas, bengkel, laboratorium, dll.), dan penyiapan alat bantu audio visual;
2) Menginformasikan bahan tersebut kepada peserta didik. Hal-hal yang harus diinformasikan adalah sebagai berikut :
 pengertian kompetensi, secara sederhana dengan pemberian contoh-contoh nyata;
 kaitan antara kompetensi dengan pekerjaan di dunia kerja;
 kaitan antara kompetensi dengan standar kompetensi;
 bagaimana belajar menggunakan modul;
 di mana siswa dapat melakukan kegiatan belajar;
 apa peran dan tugas seorang guru/instruktur/guru tamu/ pembimbing di dunia usaha/industri dalam proses belajar siswa;
 tindakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya jika siswa mengalami kesulitan belajar;
 bagaimana penguasaan hasil belajar dalam bentuk kompetensi dapat dievaluasi;
 kapan dan di mana evaluasi dilaksanakan, serta siapa yang mengevaluasi; dan
 bagaimana siswa menggunakan perolehan hasil belajarnya.

Pemberian penjelasan dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, bergantung kepada kondisi sekolah, misalnya menggunakan contoh-contoh riil atau melalui demonstrasi/simulasi.

c. Penyusunan Program Pencapaian Kompetensi

Penyusunan program pencapaian kompetensi merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh peserta didik dalam merencanakan kompetensi yang akan dipelajari dalam satu satuan waktu belajar tertentu. Rencana belajar ini disusun dengan mengacu Diagram Pencapaian Kompetensi yang tertuang dalam Bagian II Garis-garis Besar Program Pendidikan dan Pelatihan, Kurikulum SMK Edisi 2004, serta disesuaikan dengan tingkat penguasaan prasyarat atau kompetensi awal yang dimiliki siswa.

Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan, yakni

1) memperoleh acuan tertulis tentang rencana pencapaian kompetensi setiap siswa. Acuan ini dipergunakan sebagai bahan komunikasi antara siswa dengan pembimbing dalam hal pelaksanaan belajar;
2) menyiapkan mental siswa/peserta diklat dalam melaksanakan kegiatan belajar; dan
3) mengembangkan sikap disiplin dan kebiasaan merekam/mencatat (recording) suatu kegiatan ke dalam lembaran/buku bukti rekaman hasil belajar.

Pelaksanaan penyusunan program pencapaian kompetensi mengikuti langkah berikut:

1) Peserta diklat diberi penjelasan mengenai prinsip-prinsip belajar menggunakan modul.
2) Peserta diklat diberi daftar kompetensi dan jadual pelaksanaan pemelajaran.
3) Peserta diklat memilih kompetensi-kompetensi yang ingin dan mungkin dipelajari dalam satu periode waktu belajar yang akan berjalan. Selama pengisian, peserta diklat diberi kesempatan untuk mendiskusikan atau memperoleh bimbingan dari guru.
4) Peserta diklat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) yang disetujui oleh pembimbing, untuk melihat kesesuaian rencana belajar dengan kemampuan dan kondisinya.
5) Peserta diklat mengumpulkan modul-modul kompetensi yang akan dipelajari
6) Data hasil pengisian KRS dimasukkan ke dalam Data Base Pendidikan, sebagai dasar untuk mengetahui perkembangan/ kemajuan belajar siswa. Kegiatan penyusunan program belajar dilaksanakan pada periode awal setelah PSB.
7) Hasil kegiatan ini berupa rencana belajar siswa secara individual, yang dituangkan dalam Kartu Rencana Studi. Kartu ini harus ditanda-tangani siswa yang bersangkutan dan memperoleh persetujuan pembimbing yang ditunjuk.
8) KRS berisi komponen antara lain:
 Identitas siswa
 Kompetensi yang dipelajari
 Tempat belajar
 Jadwal belajar
 Bukti belajar
 Tanda tangan peserta diklat dan guru

d. Penyusunan Rencana Pemelajaran Per Kompetensi

Penyusunan rencana pemelajaran per kompetensi adalah kegiatan merencanakan pemelajaran masing-masing kompetensi yang harus diikuti oleh peserta didik sesuai dengan pilihannya. Rencana pemelajaran ini diwujudkan dalam skenario (strategi) pemelajaran yang mengintegrasikan substansi non instruksional, dengan menerapkan pemelajaran berbasis produksi (production based training).

Penyusunan rencana pemelajaran ini bertujuan untuk memperoleh suatu acuan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pemelajaran, sehingga dapat membantu proses belajar peserta diklat secara optimal.

Penyusunan rencana pemelajaran dilaksanakan melalui tahapan/langkah sebagai berikut.

1) Mengintegrasikan substansi noninstruksional khususnya aspek kecakapan hidup ke dalam substansi instruksional.
2) Memilih strategi pemelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakteristik tempat pemelajaran.

Hasil penyusunan rencana pemelajaran ini berupa rancangan pemelajaran/ satuan acara pemelajaran (SAP) per kompetensi yang menggunakan format rancangan pemelajaran yang dikembangkan oleh sekolah. Rancangan pemelajaran/SAP memuat komponen antara lain:
 Kompetensi/sub kompetensi
 Materi pokok pemelejaran
 Substansi noninstruksional
 Metode penilaian
 Strategi/skenario pemelajaran
 Waktu
 Sumber belajar

PELAKSANAAN PEMELAJARAN
1. Pengertian

Pelaksanaan pemelajaran adalah proses kegiatan belajar peserta diklat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, untuk mencapai penguasaan kompetensi. Pemelajaran dapat dilaksanakan di sekolah dan atau di dunia kerja.

Proses pemelajaran di sekolah dimaksudkan untuk mengembangkan potensi akademis dan kepribadian siswa, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan dunia kerja. Proses pemelajaran /pelatihan di dunia kerja dimaksudkan agar siswa menguasai kompetensi terstandar, mengembangkan dan menginternalisasi sikap dan nilai profesional sebagai tenaga kerja yang berkualitas unggul, baik bekerja pada pihak lain maupun sebagai pekerja mandiri.
2. Tujuan

Pelaksanaan pemelajaran/diklat dimaksudkan untuk mengembangkan potensi akademis dan kepribadian siswa, menguasai kompetensi terstandar, serta menginternalisasi sikap dan nilai profesional sebagai tenaga kerja yang berkualitas unggul, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan dunia kerja.
3. Langkah Kerja

Pelaksanaan pemelajaran yang menerapkan prinsip-prinsip pemelajaran berbasis kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

a. Persiapan meliputi:
(1) inventarisasi sumber daya pemelajaran
(2) penilaian kesiapan pemelajaran
b. Pelaksanaan pemelajaran berbasis kompetensi.

Langkah-langkah pelaksanaan pemelajaran selengkapnya dapat dilihat dalam Gambar 4 Standar Prosedur Operasional Pelaksanaan Pemelajaran berikut.

ALUR PROSES
DESKRIPSI PENANGGUNG JAWAB UNSUR TERKAIT HASIL
Peserta diklat membaca modul yang akan dipelajarinya, dan melakukan tutorial dengan guru pembimbing Peserta diklat Catat bagian modul yang belum dipahaminya

Menginventarisasi sumber belajar seperti narasumber, SOP, tempat, peralatan dan bahan paraktek dll Daftar sumber belajar

Guru dan atau instruktur menyiapkan sumber belajar di SMK dan di Industri dengan dukungan manajemen/orang yang berwenang
Guru dan atau instruktur Manajemen sekolah dan orang yang berwenang di DU/DI Sumber belajar yang siap
Memeriksa kesiapan sumber belajar

Ketua program keahlian / ketua program umum Guru terkait
Melaksanakan pemelajaran mengacu prinsip-prinsip pemelajaran berbasis kompetensi

Guru/instruktur/ pembimbing
Kepala sekolah
Wakakur
Ketua Program keahlian
Pemelajaran sesuai prinsip pemelajaran berbasis kompetensi

Lihat 3.3
Gambar 4.
Standar Prosedur Operasional Pelaksanaan Pemelajaran

a. Persiapan

1) Membaca Modul

Membaca modul merupakan kegiatan pertama peserta diklat sebelum melakukan kegiatan-kegiatan yang dicantumkan dalam modul. Peserta diklat perlu memahami dengan jelas petunjuk-petunjuk dalam modul, jika belum jelas, perlu berkonsultasi dengan guru pembimbing. Tujuan membaca modul adalah agar peserta diklat dapat melakukan pemelajaran dengan benar

2) Menginventaris tempat pemelajaran

Inventarisasi tempat pemelajaran merupakan proses penghimpunan informasi tentang tempat yang dapat digunakan untuk melaksanakan pemelajaran, dengan memperhatikan prinsip pemelajaran berbasis kompetensi, karakteristik materi yang dipelajari dan kebutuhan individual siswa. Tempat pemelajaran yang sesuai untuk pemelajaran berbasis kompetensi adalah tempat dimana kompetensi yang dipelajari diimplementasikan (dunia kerja sesungguhnya), atau setidak-tidaknya, merupakan replika dari kondisi yang sesungguhnya.

Tujuan inventarisasi tempat pemelajaran ini untuk memperoleh tempat pemelajaran yang paling sesuai untuk melaksanakan pemelajaran yang telah direncanakan. Inventarisasi tempat pemelajaran terdiri dari dua kegiatan, yaitu:

(1) Penjajagan tempat-tempat pemelajaran
(2) Penentuan tempat pemelajaran.

Penjajagan Tempat-tempat Pemelajaran

Penjajagan tempat pemelajaran adalah proses menentukan tempat pemelajaran yang memenuhi syarat sesuai dengan tuntutan prinsip pemelajaran berbasis kompetensi. Langkah-langkah penjajagan tempat pemelajaran adalah sebagai berikut.

(1) Membuat acuan yang dijadikan dasar penetapan tempat pemelajaran yang dikembangkan atas dasar tuntutan prinsip pemelajaran berbasis kompetensi, kesesuaian dengan karakteristik materi yang dipelajari dan kesesuaian dengan kebutuhan individual siswa;
(2) menginventarisasi tempat-tempat yang memenuhi persyaratan untuk melaksanakan pemelajaran berbasis kompetensi;
(3) menjajagi kemungkinan penggunaan tempat-tempat tersebut untuk dijadikan tempat pemelajaran peserta didik melalui upaya negosiasi dengan pihak pemilik (yang berwenang).

Penentuan Tempat Pemelajaran

Penentuan tempat pemelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

 Menetapkan tempat pemelajaran yang sesuai dengan acuan/kriteria penilaian
 Membuat nota kesepahaman (MoU) dengan pihak pemilik (yang berwenang) tentang kesepakatan penggunaan fasilitas yang dikuasainya menjadi tempat pemelajaran.

b. Pelaksanaan

1) Negosiasi dengan pihak yang mewenangi tempat/sumber belajar.

Negosiasi dengan dengan pihak yang mewenangi tempat/sumber belajar adalah kegiatan untuk memperoleh izin untuk menggunakan tempat / sumber belajar di luar sekolah. Kegiatan ini dilakukan oleh guru pembimbing.

Tujuan kegiatan ini adalah agar peserta diklat dapat menggunakan tempat atau sumber belajar yang direncanakan.

2) Pelaksanaan pemelajaran

Pelaksanaan pemelajaran berbasis kompetensi bertujuan untuk memenuhi program pemelajaran yang telah ditetapkan, sehingga tujuan program diklat dapat tercapai. Pelaksanaan pemelajaran berbasis kompetensi dilakukan dengan pengaturan sebagai berikut:

(1) Pemelajaran di Sekolah
(2) Pemelajaran di Industri (dunia kerja)

Pemelajaran di Sekolah
Ciri/operasionalisasi pemelajaran di sekolah adalah sebagai berikut:
 Pemelajaran di sekolah meliputi pemelajaran program normatif, adaptif, dan produktif.
 Pemelajaran program produktif ditekankan pada penguasaan dasar-dasar keahlian yang luas, kuat, mendasar, serta penguasaan alat dan teknik bekerja yang tepat.
 Industri dapat dilibatkan dalam proses pemelajaran di SMK terutama untuk meningkatkan penguasaan peserta terhadap dasar-dasar keahlian yang benar serta memberikan wawasan tentang dunia kerja.
 Keterlaksanaan program di SMK, baik akademis maupun administratif menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah dengan koordinasi Komite Sekolah.
 Siswa yang berminat untuk bekerja mandiri (berwirausaha), perlu mendapatkan bimbingan khusus yang memadai dari pihak sekolah. Siswa yang bersangkutan tidak cukup diberikan pengetahuan bisnis secara teoritis, tetapi ia harus dibina dan dilatih dengan pengalaman berwirausaha atau berbisnis secara nyata dan bertahap.
 Bimbingan berwirausaha antara lain mencakup aspek menganalisis pasar, merencanakan, melaksanakan produksi (barang atau jasa), memasarkan hasil, mengevaluasi, dan membuat laporan hasil usaha serta membuka jejaring kerja dengan pihak lain.
 Apabila praktik berwirausaha tersebut membutuhkan waktu pemelajaran yang lebih banyak, maka sekolah dapat menyesuaikan jumlah jam yang ada di dalam Struktur Kurikulum Pendidikan dan Pelatihan, baik program diklat normatif, adaptif, maupun produktif. Pengaturan tersebut dilakukan secara rasional, selaras, dan seimbang.
 Pengalaman berwirausaha dapat dilaksanakan di sekolah melalui pembukaan kelas wirausaha yang sesuai dengan minat siswa dan potensi pasar.

Pemelajaran di Industri (Dunia Kerja)
Ciri/operasionalisasi pemelajaran di dunia kerja/industri adalah sebagai berikut:
 Peserta diklat yang mengikuti pelatihan di industri adalah mereka yang memenuhi persyaratan minimal yang telah ditetapkan, baik pada saat penerimaan maupun pada saat pemilihan program diklat.
 Industri dapat melakukan pemilihan peserta dan memberikan pembekalan kemampuan tambahan, agar benar-benar siap dan memenuhi standar minimal sesuai dengan persyaratan kerja yang ada.
 Kegiatan pelatihan di industri dilaksanakan sesuai dengan program bersama yang telah disepakati.
 Kegiatan peserta di industri merupakan kegiatan bekerja langsung pada pekerjaan yang sesungguhnya, untuk menguasai kompetensi yang benar dan terstandar, sekaligus menginternalisasi sikap dan etos kerja yang positif sesuai dengan persyaratan tenaga kerja profesional pada bidangnya.
 Lamanya peserta berada di suatu industri, ditentukan atas dasar jumlah waktu latihan yang dipersyaratkan untuk menguasai kompetensi yang akan dipelajarinya. Waktunya berkisar antara 4 bulan sampai dengan 12 bulan.
 Pelaksanaan pemelajaran di industri dilengkapi dengan perangkat antara lain: jurnal kegiatan peserta, termasuk daftar kemajuan hasil belajar peserta; perangkat monitoring; kontrak kerja/perjanjian peserta (jika diperlukan); asuransi kecelakaan kerja bagi peserta; lain-lain yang dianggap perlu.
 Kegiatan pemelajaran berbasis kompetensi dilakukan setelah penyiapan komponen-komponen/sarana pemelajaran dipastikan kesiapannya, untuk mengantisipasi terjadinya hambatan dalam pelaksanaan proses pemelajaran.

Hasil pelaksanaan pemelajaran, baik di SMK maupun di industri, adalah dicapainya penguasaan sejumlah kompetensi yang telah direncanakan dalam program pemelajaran oleh peserta diklat. Semua perolehan dan hal-hal penting yang terkait, terekam dalam data base pendidikan.
PENILAIAN HASIL BELAJAR
1. Pengertian

Penilaian adalah proses penentuan nilai hasil pengukuran dibandingkan dengan acuan atau standar tertentu. Sedangkan pengukuran adalah proses kuantifikasi atau pengumpulan bukti-bukti suatu gejala atau obyek menurut aturan tertentu yang dapat dilakukan baik dengan cara tes maupun dengan cara nontes.

Penilaian hasil belajar dalam sistem pemelajaran berbasis komptensi pada dasarnya merupakan proses penentuan untuk memastikan peserta didik apakah sudah kompeten atau belum. Penentuan tersebut dilakukan dengan cara membandingkan bukti-bukti hasil belajar (learning evidance) yang diperoleh seorang peserta didik dengan krtiteria kinerja (performance criteria) yang ditetapkan pada standar kompetensi.
2. Tujuan

Penilaian hasil belajar bertujuan:

(1) mengetahui sejauhmana telah terjadi kemajuan hasil belajar pada diri peserta didik, sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan bimbingan belajar selanjutnya;
(2) mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik, sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan apakah yang bersangkutan berhasil (lulus) atau tidak (belum) berhasil dalam menempuh suatu program pemelajaran;
(3) menetapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan standar komptensi.
3. Langkah Kerja

Pelaksanaan penilaian hasil belajar menerapkan prinsip-prinsip penilaian berbasis kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

(1) penyusunan kriteria dan perangkat penilaian;
(2) pelaksanaan penilaian hasil belajar;
(3) verifikasi internal;
(4) verifikasi eksternal.
Alur Proses Deskripsi Penanggung Jawab Unsur Terkait Hasil
Dokumen kurikulum hasil penyesuaian

Penyusunan Kriteria dan Perangkat Penilaian
Guru
Wakakur
Du/Di
terkait
Krieria dan perangkat penilaian

Pemelajaran dan penilaian hasil belajar peserta didik, serta melakukan remediasi bagi yang belum kompeten

Guru

Du/Di terkait
Staf admi-nistrasi Kesiswaan
BP/BK
Hasil penilaian mengacu pada standar kompetensi

Verifikasi/pemeriksaan kesesuaian data hasil penilaian (learning evidence) oleh pihak internal
Tim verifikasi internal Kepala sekolah
Wakakur
Ketua program
Keabsahan hasil penilaian
Verifikasi/pemeriksaan kesesuaian data hasil penilaian dan hasil verifikasi internal oleh pihak eksternal

Lembaga Independen
Kepala sekolah
Wakakur
Ketua program
Pengakuan penguasaan kompetensi peserta didik dan pemberian sertifikat kompetensi

Gambar 5
Standar Prosedur Operasional
Penilaian Hasil Belajar

a. Penyusunan Kriteria dan Perangkat Penilaian

Penyusunan kriteria dan perangkat penilaian merupakan kegiatan penjabaran kriteria kinerja yang terdapat dalam kurikulum menjadi perangkat penilaian hasil belajar dan atau penguasaan kompetensi, sebagai acuan dalam pelaksanaan penilaian. Tujuan penyusunan kriteria dan perangkat penilaian adalah untuk mendapatkan perangkat penilaian yang sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian berbasis kompetensi.

Pelaksanaan penyusunan kriteria dan perangkat penilaian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1) Menganalisis kriteria kinerja yang ada dalam kurikulum, meliputi ranah sikap, peengetahuan, keterampilan;
2) Menjabarkan kriteria kinerja menjadi indikator keberhasilan. Kegiatan ini dapat menggunakan format Analisis Kriteria dan Perangkat Penilaian seperti pada lampiran;
3) Mengembangkan kisi-kisi sebagai acuan dalam menyusun perangkat penilaian sesuai dengan ruang lingkup/aspek-aspek yang harus dinilai;
4) Menyusun perangkat penilaian, lengkap dengan kriterai (indikator) ketercapaian setiap kompetensi/subkompetensi yang dinilai dan cara penilaiannya.

b. Penilaian Hasil Belajar

Penilaian hasil belajar dimaksudkan untuk mengatahui dan menetapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi-kompetensi yang dipelajari.

Ruang lingkup pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta diklat meliputi hal-hal di bawah ini.

1) Penilaian terhadap proses dan kemajuan belajar peserta didik pada setiap kompetensi yang sedang dipelajarinya, terutama untuk mendapatkan umpan balik yang berguna dalam perbaikan pemelajaran selanjutnya.
2) Penilaian akhir pemelajaran kompetensi untuk mengetahui dan menetapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap setiap kompetensi yang dipelajari sebagai dasar untuk menentukan proses pemelajaran lebih lanjut.
Penilaian ini dilaksanakan pada setiap akhir pemelajaran suatu kompetensi, dan hanya peserta didik yang dinyatakan kompeten yang boleh mengakhiri pemelajaran komptensi tersebut serta beralih/pindah ke pemelajaran kompetensi yang lainnya.
3) Penilaian akhir pendidikan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap seluruh program pendidikaan dan pelatihan sebagai dasar untuk menetapkan kelulusan menempuh jenjang pendidikan pada SMK.

c. Verifikasi Hasil Penilaian

1) Verifikasi internal

Verifikasi internal dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dengan bukti-bukti belajar yang diperoleh peserta didik oleh tim verifikator internal sehingga bukti kesesuaian antara hasil penilaian guru dengan tingkat penguasaan kompetensi yang dicapai peserta didik.

Verifikasi internal dilaksanakan oleh tim manajemen sekolah dan guru-guru lain yang ditetapkan oleh kepala sekolah.

Pelaksanaan verifikasi internal dilakukan dengan langkah berikut ini:

(1) menginventarisasi data hasil penilaian yang telah dilakukan oleh guru terhadap peserta didik;
(2) menginventarisasi bukti-bukti fisik yang dimiliki peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru;
(3) memeriksa kesesuaian antara nilai yang diberikan guru dengan tingkat penguasaan kompetensi yang dicapai peserta didik;
(4) Bila ditemukan ketidaksesuaian, guru melakukan klarifikasi dan atau perbaikan oleh guru.

Hasil verifikasi internal terutama digunakan untuk meyakinkan bahwa proses pemelajaran dan penilaian yang telah dilalui peserta didik, memenuhi kriteria pemelajaran dan penilaian berbasis kompetensi. Terhadap peserta didik yang “lolos” verifikasi internal, diberi kesempatan untuk mengikuti sertifikasi kompetensi yang dilaksanakan oleh pihak eksternal.

2) Verifikasi eksternal

Verifikasi eksternal dimaksudkan untuk memeriksa penguasaan kompetensi yang dikuasai oleh perserta didik, dilakukan oleh lembaga sertifikasi independen yang relevan. Pihak lembaga sertifikasi tersebut dapat menunjuk lembaga pendidikan yang memenuhi syarat untuk melaksanakan ujian dan sertifikiasi kompetensi, dan telah diakreditasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Konsisten dengan prinsip pemelajaran dan penilaian berbasis kompetensi, apa yang telah ditetapkan oleh guru dan diverifikasi oleh sekolah secara internal tentang penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah dipelajarinya, pada prinsipnya harus sudah mengacu pada standar, prosedur dan mekanisme penetapan kompeten sesuai dengan standar yang berlaku pada masing-masing keahliannya. Karena itulah proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi selain ditempuh melalui mekanisme pengujian, dimungkin untuk ditempuh melalui prosedur dan mekanisme verifikasi yang disebut verifikasi eksternal.

Verifikasi eksternal dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dan hasil verifikasi internal dengan bukti-bukti belajar yang diperoleh peserta didik oleh tim verifikator eksternal, untuk meyakinkan apakah peserta didik yang bersangkutan telah memenuhi syarat untuk dinyatakan kompeten. Verifikasi eksternal dilaksanakan setelah peserta didik dinyatakan lolos pada verifikasi internal. Verifikasi eksternal dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut ini.

(1) menginventarisasi data hasil penilaian yang telah dilaksanakan terhadap peserta didik yang dinyatakan berhasil oleh tim verifikasi internal sekolah;
(2) menginventarisasi bukti-bukti fisik lain yang dimiliki peserta didik sebagai tanda telah menguasai kompetensi;
(3) memeriksa kesesuaian antara nilai yang diberikan guru dengan tingkat penguasaan kompetensi yang telah dicapai peserta didik.
Jika diperlukan, assessor eksternal yang mewakili lembaga sertifikasi dapat melakukan uji sampel terhadap populasi peserta didik yang diverifikasi dan terhadap lingkup penguasaan kompetensi yang diujikan.
ADMINISTRASI DAN PELAPORAN HASIL BELAJAR
1. Pengertian

Adminsitrasi dan pelaporan hasil belajar adalah aktivitas mengadministrasikan seluruh data hasil belajar peserta didik dengan cara-cara yang dapat memudahkan penyimpanan, memeriksa, dan melaporkan data tersebut sesuai dengan tujuan masing-masing aktivitas.
2. Tujuan

Administrasi dan pelaporan hasil belajar peserta didik dimaksudkan untuk:

(1) mencatat, menyimpan, dan memelihara data hasil belajar peserta didik secara cermat, akurat, aman, dan mudah digunakan;
(2) menyediakan informasi tentang kemajuan dan prestasi hasil belajar bagi kepentingan pembinanan dan pengembangan peserta didik dalam bentuk/ format yang sesuai dengan kepentingannya;
(3) menginformasikan kemajuan dan prestasi hasil belajar peserta didik kepada pihak-pihak yang berkepentingan, sebagai bagian pertanggung-jawaban sekolah dalam rangka akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.
3. Jenis Administrasi dan Pelaporan

Hasil penilaian didokumenkan dalam berbagai bentuk antara lain dapat berupa laporan penilaian seperti berikut buku laporan (rapor), paspor keterampilan (skill pasport), leger, transkrip, ijazah.

a. Buku Laporan (Rapor)

Buku laporan (rapor) berisi informasi hasil belajar peserta didik yang memberi gambaran secara rinci tentang pencapaian kompetensi pada tahap waktu pemelajaran tertentu. Buku laporan berisi antara lain:
 Identitas sekolah;
 Identitas peserta didik;
 Nilai hasil belajar mata diklat atau kompetensi yang dinyatakan dalam angka dan huruf.
 Pengesahan oleh guru pembimbing diketahui oleh orang tua/wali murid;
 Legalitas kepala sekolah.

b. Skill Passport

Skill passport dimaksudkan untuk menginformasikan kompetensi/subkom-petensi yang telah dicapai, dan menginformasikan kepada dunia kerja (DU/DI) atau pihak lain yang terkait tentang riwayat pencapaian kompetensi/subkompetensi yang dimiliki oleh pemegangnya. Skill passport merupakan dokumen yang berisi rekaman nilai secara utuh tentang kompetensi/subkompetensi yang dikuasai pemegangnya sebagai bukti dan bahan pertimbangan bagi lapangan kerja.

Skill passport minimal berisi komponen-komponen antara lain:

 Identitas pemegang/peserta didik;
 Identitas sekolah;
 Nama program keahlian;
 Penjelasan tentang Skill Passport;
 Daftar kompetensi dan subkompetensi, pencapaian dan legalitas
 Keterangan lain yang diperlukan.

c. Leger

Leger merupakan buku yang berisi informasi pencapaian hasil belajar peserta didik dalam satu kelas, yang memberi gambaran secara rinci tentang penguasaan kompetensi dan catatan pribadi dalam satu tahun. Leger ini dimaksudkan:

 Untuk merekam perkembangan kemajuan belajar peserta didik satu kelas yang berisi:
 Identitas peserta didik;
 Uraian mata Diklat yang dipelajari;
 Kelulusan dan tanggal perbaikan dari setiap mata Diklat yang dinyatakan belum lulus.
 Memberi informasi tentang keadaan hasil belajar peserta didik dalam satu kelas.

d. Transkrip

Transkrip merupakan kumpulan laporan pencapaian hasil belajar pada akhir pendidikan yang memberikan gambaran secara rinci dan menyeluruh kompetensi dan prestasi peserta didik selama proses pendidikan. Transkrip dimaksudkan untuk memberi penjelasan secara rinci prestasi peserta didik pada akhir pendidikan. Transkrip antara lain berisi komponen sebagai berikut.

 Identitas sekolah;
 Identitas peserta didik;
 Nilai hasil belajar mata diklat atau kompetensi yang dinyatakan dalam angka dan huruf
 Pengesahan dan cap oleh kepala sekolah

e. Ijazah

Ijazah merupakan keterangan pengakuan penyelesaian suatu jenjang pendidikan dan sekaligus tanda kelulusan yang diberikan setelah peserta didik menyelesaikan seluruh program pendidikan jenjang SMK dan lulus ujian yang diselenggarakan pada akhir pendidikan. Ijazah dimaksudkan untuk memberikan pengakuan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan program dan lulus jenjang pendidikan SMK. Ijazah setidak-tidaknya mengandung hal-hal berikut:

 Identitas lembaga yang mengeluarkan;
 Identitas pemegang;
 Jenjang jenis dan pendidikan yang ditempuh;
 Tanggal, bulan, dan tahun penerbitan;
 Bidang/program keahlian;
 Legalisasi oleh pejabat lembaga yang mengeluarkan.
DUKUNGAN MUTU PENDIDIKAN
1. Rasional

Pendidikan menengah kejuruan, seperti pendidikan lainnya, harus dilihat sebagai sebuah sistem yang tersusun dari beberapa komponen yaitu: program pendidikan (kurikulum), peserta didik, guru dan tenaga teknis, fasilitas (sarana dan prasarana), dan manajemen. Semua komponen tersebut harus dirancang secara menyeluruh, saling kait mengkait menjadi satu kesatuan rancangan yang utuh, untuk dapat mencapai tujuan pendidikan di SMK.

Terkait dengan tujuan pendidikan di SMK, mutu pendidikan dan pelatihan di SMK dapat tercapai apabila terjadi integrasi diantara komponen pendidikan baik dari sisi perencanaan maupun pelaksanaan sebagai dukungan internal, dukungan eksternal dari masyarakat dan indutri serta terjadinya perubahan budaya pendidikan di sekolah.
2. Ruang Lingkup Dukungan

Beberapa faktor pendukung yang diharapkan dapat mendukung ketercapaian mutu lulusan SMK baik yang bersifat internal maupun eksternal.

a. Dukungan internal

1). Sistem pembinaan dan pengembangan guru/instruktor untuk mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme sebagai fasilitator pemelajaran/pelatihan yang kompeten;
2). Sarana dan prasaran pendidikan yang dapat menjamin keberlangsungan dan kualitas pemelajaran untuk mencapai penguasaan kompetensi;
3). Komite Sekolah sebagai wadah para stakeholders mengembangkan kerja sama dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan pada SMK;
4). Sistem penerimaan peserta didik/peserta diklat sesuai dengan karakteristik pemelajaran berbasis kompetensi, yang antara lain menganut prinsip multi entry/exit;
5). Pelaksanaan prakerin yang taat asas terhadap prinsip sistem ganda;
6). Kegiatan ekstrakurikuler yang mampu mendukung pencapaian tujuan lembaga dan sekaligus mengembangkan kepribadian peserta didik sesuai dengan tuntutan kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
7). Bimbingan kejuruan untuk membantu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal;
8). Unit Produksi yang mampu menjadi substitusi institusi pasangan dalam pelaksanakan pendidikan sistem ganda
9). Manajemen pendidikan yang mampu memberdayakan potensi internal dan eksternal sekolah untuk mencapai tujuan sekolah.

b. Dukungan eksternal

1) Apresiasi dan persepsi positif masyarakat luas terhadap profesi dan status sosial lulusan SMK;
2) Adanya Standar Kompetensi Kejuruan Nasional Indonesia (SKKNI) yang digunakan sebagai acuan penyusunan program pendidikan dan pelatihan;
3) Institusi Pasangan yang dapat menjamin terlaksananya pendidikan sistem ganda (dual based program);
4) Sertifikasi yang dikeluarkan oleh asosiasi atau industri yang dikenal secara luas di masyarakat dan dunia kerja akan memberikan pengakuan yang obyektif terhadap mutu lulusan.

c. Perubahan budaya

1) Perubahan pola pikir dari supply menjadi market oriented;
2) Dari biasa diatur, tergantung menjadi mandiri/otonom;
3) Kebiasaan guru mengajar berubah menjadi guru sebagai fasilitator;
4) Siswa biasanya diwajibkan duduk pasif mendengar guru mengajar menjadi siswa aktif belajar;
5) Dari tamat belajar, menjadi lulus dan kompeten.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s