Bahasa Indonesia

DESKRIPSI PEMELAJARAN

MATA DIKLAT : BAHASA INDONESIA
TUJUAN : 1. meningkatkan kompetensi peserta dalam berbahasa Indonesia sampai ke tingkat kualifikasi unggul;
2. mengembangkan mata diklat Bahasa Indonesia yang terpadu dengan mata diklat yang lain;
3. menghasilkan lulusan yang terampil berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tulis;
4. menghasilkan lulusan yang mampu memanfaatkan Bahasa Indonesia untuk berkarya dan berprestasi di tengah masyarakat.
KOMPETENSI : Berkomunikasi dalam bahasa Indonesia setara dengan kualifikasi Semenjana (Skor UKBI 346 – 465)
KODE : A
DURASI PEMELAJARAN : 81 Jam @ 45 menit

SUB KOMPETENSI KRITERIA KINERJA RUANG LINGKUP MATERI POKOK PEMELAJARAN
SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN
1. Menyimak
1.1. Memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang lazim/ baku
 Reaksi kinetik (menunjukkan sikap memperhatikan, men-catat) terhadap lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tidak lazim/baku diberikan oleh peserta diklat
 Komentar atau ungkapan lisan terhadap lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tidak lazim/baku diberikan oleh peserta diklat
 Siaran atau rekaman siaran radio/televisi rekaman pidato, khotbah, lagu, iklan, dan lain-lain yang disampai-kan oleh pembicara dengan identitas dan latar belakang yang berbeda  Peka terhadap pelafalan yang tidak lazim/baku  Informasi dan contoh lafal (termasuk kamus besar bahasa indonesia), tekan-an, intonasi, dan jeda yang lazim/baku  Memberikan reaksi kinetik atau verbal bila mendengar lafal, tekan-an, intonasi, atau jeda yang tidak lazim/baku
1.2. Memahami informasi lisan  Sumber informasi diidentifika-si oleh peserta diklat sesuai dengan wacana yang diberi-kan oleh guru
 Isi pokok informasi dan uraian lisan yang bersifat faktual, spesifik, dan rinci dicatat oleh peserta diklat
 Ragam/laras bahasa dikenali oleh siswa
 Proses dan hasil dibedakan oleh peserta diklat dengan memperhatikan ciri atau penanda kata/kalimat  Berbagai informasi baik yang pendek, sederhana, dan umum dengan sumber infor-masi dari guru; maupun informasi yang panjang, kompleks, dan spesifik, dengan sumber informasi dari kaset, radio, tv, atau internet
 Wacana yang menggambar-kan berbagai situasi kema-syarakatan dengan menggu-nakan ragam/ laras bahasa yang berbeda-beda
 Informasi yang menggam-barkan adanya proses atau hasil yang antara lain ditandai oleh imbuhan pe … an (proses) dan akhiran an (hasil)  Tekun dan konsentrasi dalam menyimak infor-masi
 Sadar akan penanda keserasian antara ragam/laras bahasa dan situasi komunikasi
 Sadar akan adanya pe-nanda kata dan cekatan dalam pemanfaatan penanda kata/kalimat yang menggambarkan suatu ‘proses’ atau ‘hasil’  Ciri-ciri sumber informasi dan yang bukan
 Perbedaan fakta dan bukan fakta, yang umum dan yang spesifik, pemerian dan yang bukan
 Konsep dan ciri-ciri ragam/laras bahasa yang disertai contoh
 Ciri atau penanda kata/ kalimat yang menunjuk-kan ‘proses’ atau ‘hasil’ dalam contoh  Memilih sumber infor-masi dari informasi yang didengar
 Membuat catatan yang sifatnya faktual, spesifik, dan rinci berdasarkan informasi yang didengar
 Mengidentifikasi ragam/ laras bahasa yang tepat/ tidak tepat
 Mengenali dan dapat me-nyebutkan dengan cepat dan mantap infor-masi yang berarti ‘proses’ atau ‘hasil’
2. Membaca
2.1. Membaca cepat untuk pemahaman  Membaca cepat permulaan (120-150 kata tiap menit) dengan menggunakan cara/ teknik membaca cepat dilaku-kan oleh peserta diklat
 Membaca cepat lanjutan dengan menerapkan teknik pindai (scanning) dan layap (skimming) sehingga men-capai 230-250 kata tiap menit dilaku-kan oleh peserta diklat
 Berbagai teks bacaan dari bermacam-macam sumber (surat kabar, majalah, buku ajar, lirik lagu, karya sastra, dan lain-lain) dengan panjang bervariasi (100-500 kata), dalam bentuk yang beragam (narasi, deskripsi, argumentasi, eksposisi), dan dengan kandungan fakta, opini, proses, dan hasil yang beragam pula  Gemar, tekun, dan cermat membaca
 Kebiasaan membaca dan membuat catat-an sebagai kebutuh-an hidup  Cara/teknik membaca cepat untuk pemaham-an
 Konsep tentang sarana komunikasi, kesadaran berbahasa, dan sikap berbahasa yang positif
 Cara/teknik membuat catatan
 Informasi tentang hubungan seni ber-bahasa, sastra, dan apresiasi
 Membaca teks dengan kecepatan kurang dari 250 kata/menit
 Memanfaatkan kamus dengan baik
 Menjelaskan secara rinci bagian bacaan yang diperlukan
 Membuat catatan atau ringkasan bacaan yang baik, termasuk nonverbal
 Menafsirkan kata, bentuk kata, dan ungkapan idiomatik dengan tepat
 Mengapresiasi ‘bahasa indah’/karya sastra

 Pokok-pokok isi bacaan di-catat oleh peserta diklat sesuai dengan cara/teknik membuat catatan
 Bagian bacaan tertentu yang diperlukan dijelaskan secara rinci oleh peserta diklat
2.2. Memahami informasi tulis, grafis, dan matriks  Sumber informasi diidentifika-si dengan menggunakan cara/teknik membaca cepat untuk pemahaman
 Isi pokok informasi dicatat dengan menggunakan cara/ teknik membuat catatan yang benar
 Jenis teks (narasi, deskripsi, argumentasi, dan eksposisi) diidentifikasikan dengan menggunakan cara/teknik membaca cepat untuk mem-baca pemahaman
 Gaya penulisan (dari segi struktur kalimat, pilihan kata, dan metafora) diidentifikasi-kan dengan menggunakan cara/teknik membaca cepat dan cara/ teknik membuat catatan
 Fakta dan opini, dipilih dengan menggunakan cara/ teknik membuat catatan
 Proses dan hasil dipilah oleh peserta didik dengan meng-gunakan cara/teknik mem-baca cepat dan cara/ teknik membuat catatan
 Masalah (jika ada) diidentifi-kasikan oleh peserta diklat
 Berbagai teks bacaan, ter-masuk grafik dan matriks, dari bermacam-macam sumber (surat kabar, majalah, buku ajar, lirik lagu, karya sastra, dan lain-lain) dengan panjang bervariasi (100-500 kata), dalam bentuk yang beragam (narasi, deskripsi, argumentasi, eksposisi), dan dengan kandungan fakta, opini, proses, dan hasil
 Teks tentang jenis sarana komunikasi, kesadaran berbahasa, sikap berbahasa, Sumpah Pemuda, lirik lagu Indonesia Raya, iklan dll.
 Teknik verbal dan norverbal
 Gemar, tekun, dan cermat membaca
 Kebiasaan membaca dan membuat catatan sebagai kebutuhan hidup
 Tekun dalam mencari dan cermat dalam me-nentukan masalah, proses, hasil, opini, fakta, dan gaya tulisan yang digunakan dalam teks
 Sikap positif terhadap bahasa ibu dan bahasa Indonesia
 Tekun dan teliti dalam membaca dan cermat dalam menyimpulkan atau membuat para-frasa
 Serius dan hati-hati dalam mengumpulkan butir-butir pokok infor-masi dan dalam me-nyampaikan pendapat
 Cara/teknik membaca cepat untuk pemaham-an termasuk cara membaca grafik dan matriks
 Cara/teknik membuat catatan konsep tentang sarana komunikasi, kesa-daran berbahasa, dan sikap berbahasa yang positif
 Ciri penanda masalah, gaya tulisan, fakta, opini, preses imbuhan (pe-an), dan hasil (akhiran -an) yang terdapat dalam teks
 Konsep tentang sarana komunikasi, kesadaran berbahasa, dan sikap berbahasa yang positif
 Informasi dan teknik membuat teks non-verbal
 Teknik membuat simpuan (induktif/ deduktif) dan rumusan simpulan (singkat, padat, dan lugas)
 Menyebutkan atau menuliskan sumber informasi
 Membuat catatan atau ringkasan bacaan yang baik, termasuk catatan untuk informasi non-verbal
 Memanfaatkan kamus dengan baik
 Memilih fakta, opini, proses, dan hasil dengan mudah
 Menidentifikasi masalah (jika ada)
 Memanfaatkan catatan untuk menceritakan kembali isi bacaan atau untuk menjawab perta-nyaan
 Menyampaikan secara verbal informasi yang bersumber dari teks non-verbal
 Membuat teks non-verbal berdasarkan infor-masi tulis
 Membuat simpulan dan rumusan simpulan dengan cepat dan akurat

 Pertanyaan yang berhubung-an dengan pemahaman dan intonasi yang di-peroleh dari bacaan, berdasarkan catatan yang dibuat (termasuk infor-masi mengenai berbagai jenis sarana komunikasi, kesadaran berbahasa, dan sikap ber-bahasa) diceritakan kembali atau dijawab oleh peserta diklat
 Gambar, bagan, grafik, diagram, matriks yang di-baca diungkapkan secara verbal dengan menggunakan teknik penyampaian informasi
 Informasi tulis dialihkan ke dalam bentuk nonverbal (bagan, tabel, diagram, dll) dengan menggunakan teknik membuat teks non-verbal
 Informasi yang disimpul-kan, termasuk pendapat/ opini diberikan dengan mengguna-kan teknik membuat simpulan dan rumusan

3. Berbicara
3.1. Melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat  Kata diucapkan dengan suara yang jelas dan dengan tekan-an pada suku kata, serta artikulasi yang tepat/lazim
 Penggunaan lafal bahasa Indonesia baku, termasuk lafal daerah dibedakan ber-dasarkan konsep lafal baku bahasa Indonesia  Sumber informasi berupa:
- siaran atau rekaman, siaran dari radio/tv, ceramah, pidato, khotbah, dan lain-lain;
- teks bahan ajar, artikel dari surat kabar/majalah, dan lain-lain.
 Sadar akan penting-nya artikulasi yang tepat dalam pelafalan bahasa Indonesia
 Peka dan cermat ter-hadap lafal bahasa Indonesia baku dan nonbaku  Artikulasi bunyi
 Perbedaan makna sebagai akibat kesalahan artikulasi
 Konsep lafal baku bahasa Indonesia  Mengucapkan kata dengan artikulasi yang tepat
 Menggunakan lafal baku bahasa Indonesia dengan tepat
3.2. Mengucapkan kalimat dengan jelas, lancar, bernalar, dan wajar  Penggunaan pola tekanan kata dan kalimat dalam ber-bicara dibedakan dengan memperhatikan konsep dan pola serta intonasi, tekanan, nada, irama, jeda, dan sebagainya.
 Tekanan, intonasi, dan jelas digunakan secara tepat dalam mengucapkan kalimat, misalnya pada pembacaan lirik lagu, naskah/teks pengumum-an/pidato, dan sejenisnya.
 Sumber informasi berupa:
- Siaran atau rekaman, siaran dari radio/tv, ceramah, pidato, khotbah, dll;
- Teks bahan ajar, artikel dari surat kabar/majalah, dan lain-lain.
 Sadar akan perbedaan makna kata sebagai akibat dari pola tekanan kata atau kalimat  Konsep dan pola intonasi, tekanan, nada, irama, jeda, dsb  Membedakan pola tekanan, nada, irama, jeda yang lazim dan yang tidak lazim
 Menggunakan secara tepat tekanan, intonasi, dan jeda dalam ber-komunikasi lisan
3.3. Memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat  Kata dan ungkapan yang sesuai dengan tuntutan situasi komunikasi, secara tepat, menarik, dan kreatif diguna-kan dalam bercara:
- Tanpa bantuan catatan
- Dengan bantuan catat-an (yang dibuat pada waktu membaca, me-nyimak, atau pada saat memanfaatkan kamus/ ensiklopedia)
 Sinonim atau parafrasa di-manfaatkan untuk meng-hindari pengulangan mubazir kata yang sama dalam satu kalimat/ paragraf
 Kata umum dan khusus yang diperoleh dari berbagai sumber informasi (bahan ajar, rekaman atau teks lirik lagu, iklan, ceramah, puisi dan kamus, serta artikel lain), yang memberikan wawasan terhadap makna kata  Gemar dan tekun dalam mencari serta cermat dalam memilih padanan kata atau ungkapan lain yang maknanya lebih kurang sama
 Sadar dan peka ter-hadap perbedaan nuansa makna kata
 Peka dan waspada ter-hadap pengulangan yang mubazir  Cara memanfaatkan sinonim dalam kaitannya dengan konteks
 Makna leksikal, makna kontekstual/situasional makna struktural, metaforis
 Pengulangan mubazir menyebabkan ketidak- efektifan berkomunikasi  Menggunakan pilihan kata dengan tepat dengan bantuan catatan kamus/ensiklopedia sesuai dengan konteks
 Menggunakan kata yang bersinonim secara tepat dalam berbicara
 Memanfaatan sinonim kata dan parafrasa dalam berbicara guna menghindari pengulang-an mubazir

 Pemakaian kata yang ber-sinonim, yang memiliki nuansa makna yang berbeda dalam berbicara dibedakan berdasarkan makna leksikal, kontek-tual/situasional, makna struktural, metaforis
 Kata dan ungkapan yang sesuai dengan situasi komunikasi digunakan dalam hal ragam dan laras bahasa
 Informasi nonverbal (bagan/ tabel/diagram/ grafik/denah/ matriks), dilisankan  Cermat memilih ragam/ laras bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi
 Cermat dan terbiasa melisankan informasi nonverbal  Contoh ragam dan laras bahasa untuk memahami konsep dan laras bahasa
 Teknik dan kiat melisan-kan informasi nonverbal
 Menggunakan kata dan ungkapan sesuai dengan ragam/laras bahasa yang dipilih berdasarkan situasi komunikasi
 Menyampaikan secara utuh informasi yang ber-asal dari sumber non-verbal
3.4. Memilih dan menggunakan kalimat yang baik, tepat, dan santun  Kalimat yang komunikatif tetapi tidak cermat diidentifi-kasi berdasarkan:
- Kaidah bahasa
- Nalar
- Ketersampaian pesan
 Kalimat yang tidak komuni-katif tetapi cermat diidentifi-kasikan
 Kalimat yang komunikatif, cermat, dan santun dalam pembicaraan digunakan  Sumber informasi berupa siaran atau rekaman siaran dari radio/tv, cermah, pidato, khotbah, dan lain-lain.
 Teks bahan ajar, artikel dan surat kabar/majalah, dan lain-lain.  Sadar akan penting-nya keterkaitan tiga syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah kalimat
 Cermat dan santun dalam berbicara dengan memperhatikan tiga syarat kalimat  Tiga syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah kalimat yaitu:
- Kaidah bahasa
- Nalar
- Ketersampaian pesan, disertai contoh  Mengidentifikasi kalimat yang tidak komunikatif tetapi cermat
 Mengidentifikasi kalimat yang tidak komunikatif, tetapi cermat
 Berbicara secara santun dengan menggunakan kalimat yang komunikatif dan cermat
4. Menulis
4.1. Memanfaatkan kategori/kelas kata  Kata atau bentuk kata yang sama dalam pemerincian digunakan dengan memper-hatikan keefektifan dan ke-efisienan rincian  Teks yang mengandung rincian yang berupa kata, frasa, dan kalimat  Sadar akan pentingnya kelas kata dalam peme-rincian  Manfaat kesamaan kelas kata dalam rincian dan kiat memilih bentuk kata yang tepat  Membuat rincian yang efektif dan efisien ber-dasarkan pemanfaatan kategori atau kelas kata
4.2. Memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat  Kata, bentuk kata, dan ungkapan digunakan secara tepat, menarik, dan kreatif sesuai dengan tuntutan situasi komunikasi tanpa bantuan catatan; dengan bantuan catatan, kamus dan ensiklo-pedia
 Pemakaian kata yang ber-sinonim (dari segi nuansa makna) dimanfaatkan secara tepat dalam menulis kalimat
 Sinonim atau parafrasa di-manfaatkan untuk meng-hindari pengulangan kata yang sama dalam satu kalimat/paragraf  Kamus, ensiklopedia, catatan sendiri pada waktu membaca atau menyimak  Sadar akan pilihan kata, bentuk kata, dan dampaknya terhadap keefektifan kalimat serta makna kata
 Cermat dan peka terhadap kata-kata yang memiliki nuansa makna yang berbeda
 Sadar, peka, dan cermat terhadap pengulangan mubazir dalam kalimat/paragraf  Informasi tentang peran kata (bentuk dan makna) dalam konteks
 Macam makna kata yang bersinonim
 Teknik/cara menghindari pengulangan kata mubazir  Menuliskan wacana yang efektif dengan meman-faatkan pilihan kata, kalimat, dan ungkapan yang tepat
 Menulis kalimat yang sama aritnya dengan menggunakan kata yang bersinonim secara tepat
 Menulis kalimat dan paragraf yang efektif dengan memanfaatkan bentuk dan pilihan kata yang tepat dan meng-hindari pengulangan mubazir
4.3. Menggunakan kalimat tanya secara tertulis sesuai dengan situasi komunikasi  Pertanyaan yang relevan dengan topik pembicaraan dituliskan untuk menggali informasi secara santun
 Pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak (untuk memantapkan klarifikasi dan konfirmasi) dituliskan oleh peserta diklat
 Pertanyaan retorik (tidak me-merlukan jawaban) ditulis sesuai dengan tujuan dan situasinya
 Pertanyaan secara tersamar dengan kalimat tanya di-tuliskan untuk tujuan selain bertanya, seperti memohon, me-minta, menyuruh, meng-ajak, merayu, menyindir, menyakinkan, menyetujui, atau menyanggah
 Berbagai formulir (riwayat hidup, SKKB, sensus pen-duduk dan sebagainya)
 Surat dinas, cerpen, naskah drama, dan buku bacaan
 Teks drama, dialog dalam sinetron, pidato dan lain-lain yang mengandung pertanya-an tersamar  Cermat dalam me-nuliskan kalimat per-tanyaan, baik yang membutuhkan jawaban maupun yang tidak
 Sadar dan yakin akan ketepatan pertanya-an retorik yang di-gunakan
 Kritis terhadap maksud kalimat tanya  Cara merumuskan perta-nyaan secara bijaksana, santun, dan efektif, untuk berbagai tujuan komunikasi
 Informasi mengenai tuju-an dan situasi pengguna-an pertanyaan retorik
 Makna konstektual atau situasional suatu kalimat tanya  Menuliskan pertanyaan yang efektif sesuai dengan tujuan komuni-kasi
 Menuliskan kalimat tanya retorik dalam konteks yang tepat
 Menuliskan kalimat tanya tetapi bukan bertanya
4.4. Membuat parafrasa  Berdasarkan teks yang telah dibaca dan uraian lisan yang didengarkan diungkapkan kembali dengan kalimat sendiri secara tertulis  Judul berita, iklan, tajuk rencana, berita majalah/ koran, sambutan, pidato, khotbah, dan tulisan yang bersifat naratif, deskriptif, dan ekspositoris
 Cermat dalam mem-baca dan menyimak serta kreatif dan efektif dalam menulis  Teknik atau cara mene-mukan ide-ide pokok yang terdapat dalam wacana tulis dan lisan, menemu-kan alur pikiran yang tersurat  Menuliskan kembali inti pikiran orang lain, dengan kalimat pilihan sendiri
KOMPETENSI : Berkomunikasi dalam bahasa Indonesia setara dengan kualifikasi Madya (Skor UKBI 466 – 592)
KODE : B
DURASI PEMELAJARAN : 60 Jam @ 45 menit

SUB KOMPETENSI KRITERIA KINERJA RUANG LINGKUP MATERI POKOK PEMELAJARAN
SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN
1. Menyimak
1.1. Menyimpulkan informasi lisan yang tidak bersifat perintah
 Informasi lisan dialihkan ke dalam bentuk non-verbal (bagan/tabel/ diagram/grfaik/ denah/ matriks) dengan menggunakan teknik menyim-pulkan secara induktif dan deduktif serta unsur kebaha-saan
 Simpulan informasi dalam bentuk lisan ataupun tulis, termasuk memberikan pen-dapat/opini dibuat dengan menggunakan teknik peyampaian simpulan dan pendapat yang akurat
 Simpulan dengan mengguna-kan bahasa Indonesia sesuai dengan kedudukan serta fungsi bahasa daerah, dan bahasa asing di Indonesia (untuk mem-bangkitkan ke-sadaran siswa berbahasa Indonesia) dibuat dengan memperhatikan kebijakan bahasa di Indonesia  Informasi lisan dengan durasi yang berbeda-beda dan dalam berbagai bentuk, seperti dialog deskripsi, dan narasi.
 Informasi mengenai bahasa sebagai sarana berkomuni-kasi dan alat berpikir, bahasa sebagai unsur dan pengem-bang kebudayaan, serta infor-masi mengenai ke-dudukan dan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing di Indonesia  Tenang dan tekun dalam mencari infor-masi pokok sebagai dasar untuk membuat simpulan dengan me-manfaatkan penanda kebahasaan
 Mantap dalam menen-tukan bentuk nonverbal yang akan digunakan dalam memastikan ke-akuratan informasi yang dicatat
 Selalu siap menghu-bungkan dan mem-bandingkan informasi yang didengar dengan informasi lain, seperti informasi dari PPKn dan sejarah serta berusaha memantapkan kesadar-an berbahasa, khusus-nya sikap berbahasa yang positif
 Teknik menyimpulkan secara induktif dan deduktif serta unsur kebahasaan (kata/ kalimat) yang dapat dipakai sebagai pe-tunjuk bagian simpulan
 Teknik menyampaikan simpulan dan pendapat
 Kebijakan bahasa di Indonesia termasuk kesadaran berbahasa/ sikap berbahasa yang positif, serta hubungan bahasa, logika, dan mate-matika dalam berkomuni-kasi  Membuat catatan, baik verbal maupun non-verbal, sebagai dasar untuk membuat simpul-an (lisan dan tulis) yang akurat
 Menyampaikan simpulan dan pendapat yang akurat dengan lugas
 Membuat simpulan (lisan dan tulis) dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar termasuk menge-nai kesadaran ber-bahasa/sikap berbahasa yang positif
1.2. Memahami perintah lisan, baik yang diungkapkan maupun yang tidak  Isi perintah dirumuskan kembali (secara lisan atau tulis) dengan menggunakan kiat mengenali perintah
 Isi perintah dituliskan kembali dalam bentuk kerangka atau bagan
 Kegiatan yang akan dilakukan disebutkan (lisan/tulis) ber-dasarkan isi perintah
 Kegiatan yang akan dilakukan dituliskan dalam bentuk kerangka atau bagan
 Kebenaran rencana kegiatan yang akan dilakukan ditanya-kan kepada pemberi perintah
 Sejumlah perintah lisan dari yang sederhana sampai yang komplkes, dari yang terucapkan sampai yang tersirat dan dari yang memerlukan respons segera (perbuat-an atau jawaban) sampai yang memerlukan waktu untuk mencatat perintah atau mengkaji maksud perintah tersebut  Keseriusan memperha-tikan/ mendengarkan perintah dan siap mengajukan pertanyaan bila ada yang kurang/ tidak jelas serta mem-buat catatan bila diper-lukan  Kiat mengenali perintah lisan, seperti intonasi dan tekanan serta merumus-kan perintah atau rencana tindak lanjut dalam bentuk kerangka atau bagan, dan sebagainya  Merumuskan kembali isi perintah secara rinci dalam bentuk yang tepat baik lisan maupun tulis (kerangka atau bagan)
 Berkonsultasi dengan pemberi perintah mengenai keakuratan rencana tindak lanjut yang dibuat
2. Membaca
2.1. Memahami perintah kerja tertulis  Tindak lanjut direncanakan, berdasarkan catatan yang di-buat pada waktu membaca perintah kerja tertulis
 Bagan/prosedur kerja dibuat berdasarkan perintah kerja tertulis
 Kebenaran rencana kegiatan yang akan dilakukan (secara lisan atau tulis) ditanyakan kepada pemberi perintah  Perintah kerja tertulis, baik berupa surat, surat edaran, pengumuman, memo, disposisi maupun buku manual kerja  Teliti, sungguh-sungguh, dan kritis dalam membaca perintah kerja  Informasi mengenai ke-biasaan peraturan, atau budaya kerja yang ber-laku di tempat bekerja dan kiat untuk menyikapi perintah kerja yang maksudnya sama, tetapi dirumuskan dalam bentuk dan redaksi yang berbeda  Membuat catatan yang diperlukan untuk kelan-caran kerja, termasuk perintah kerja yang kurang jelas
 Membuat rencana tindak lanjut berdasarkan catat-an
 Merancang bagan/ prosedur kerja yang di-perintahkan
 Meminta konfirmasi kepada pemberi perintah akan ketepatan rencana kegiatan yang telah di-susun berdasarkan pe-mahaman yang mene-rima perintah

2.2. Memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam teks  Kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dikelompokkan berdasaran kelas kata dan makna kata (memanfaatkan kamus)
 Kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks baca-an didaftar
 Padanan kata atau lawan kata dari daftar sinonim dan antonim dituliskan
 Kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang di-persoalkan kebenaran/ ketepatannya (diterima atau ditolak), berdasarkan para-digma atau analogi diidentifi-kasi
 Kata, frasa, kalimat atau bentuk kata baru yang perlu dipersoalkan kebenaran/ ketepatannya (diterima atau ditolak), berdasarkan kaidah atau kelaziman diidentifikasi
 Berbagai teks bacaan dari bemacam-macam sumber (surat kabar, majalah, buku ajar, lirik lagu, karya sastra, dan lain-lain) dengan panjang yang bervariasi (100-500 kata), dalam bentuk yang beragam (narasi, deskripsi, persuasi, argumentasi, eksposisi), dalam bentuk kandungan fakta, opini, proses, dan hasil yang beragam pula  Kritis terhadap bentuk dan makna kata, ungkapan serta kalimat  Informasi mengenai hubungan antara makna kata, bentuk kata, dan pemakaian kata dalam konteks (disertai contoh)
 Peran dan manfaat kamus dalam belajar (bahasa) dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
 *)Proses pembentukan kata baru
 Memanfaatkan kamus dengan baik
 Memilah kata berdasar-kan kelas kata dan mengelompokkan ungkapan dan kalimat berdasarkan makna
 Mengumpulkan dari teks bacaan kata yang diper-kirakan memiliki sinonim dan antonim
 Memberikan padanan atau lawan kata untuk sejumlah kata yang ter-kumpul dalam daftar
 Mendeteksi kata, frasa dan kalimat “yang ber-masalah” jika dikaji dari segi paradigma/ analogi atau segi kaidah/ke-laziman
 Menafsirkan kata, bentuk kata, dan ungkapan idio-matik dengan tepat
3. Berbicara
3.1. Menggunakan kalimat tanya/ pernyataan sesuai dengan tuntutan situasi komunikasi  Pertanyaan relevan dengan topik pembicaraan untuk menggali informasi secara santun dan pada saat yang tepat (jawaban ya atau tidak), diajukan dengan mengguna-kan teknik atau cara menggali informasi
 Berbagai contoh kalimat tanya dari sumber infor-masi berupa:
- Siaran atau rekaman siaran dari radio/tv, cermah, pidato, khotbah, dll.
- Teks bahan ajar, artikel dari surat kabar/majalah, dan lain-lain.
 Santun dalam ber-tanya sesuai dengan situasi komunikasi
 Santun dan lugas dalam bertanya se-suai dengan siituasi komunikasi
 Menghargai jawaban dan keterbatasan mitra bicara
 Teknik atau cara menggali informasi dengan meng-gunakan kalimat tanya
 Cara membuat pertanya-an yang relevan dengan topik pembicaraaan
 Kiat membaca situasi komunikasi
 Menggunakan kalimat tanya yang tepat sesuai dengan situasi komuniksi
 Menggunakan kalimat tanya untuk menggali informasi
 Mengajukan dan meng-akhiri pertanyaan yang memerlukan jawaban ya tau tidak sesuai dengan situasi komunikasi

 Pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak misal-nya untuk memantapkan pemahaman (klarifikasi), me-minta kepastian (konfirmasi), diajukan dengan mengguna-kan teknik atau cara menggali informasi
 Pertanyaan retorik (tidak me-merlukan jawaban) digunakan dengan menerapkan konsep dan ciri kalimat retorik
 Pertanyaan secara tersamar dengan kalimat tanya untuk tujuan selain bertanya, seperti memohon, meminta, menyuruh, mengajak, merayu, menyindir, meyakin-kan, menyetujui, atau me-nyanggah diajukan dengan menerapkan model kalimat tanya tersamar
 Contoh kalimat tanya ter-samar dalam kehidupan sehari-hari  Sadar dan peka akan kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat pemakaian tanya retorik
 Sadar akan keampuan kalimat tanya tersamar  Konsep dan ciri kalimat retorik
 Dampak pengunakan kalimat retorik kepada mitra kerja
 Konsep dan model kalimat tersamar
 Kalimat tanya tersamar dalam kehidupan sehari-hari  Menggunakan kalimat tanya rorik secara tepat
 Menggunakan kalimat tanya dengan tujuan pertanyaan memohon, meminta, menyuruh, mengajak, menyindir, merayu, meyakinkan, menyetujui, atau menyanggah
 Menggunakan kalimat pertanyaan dengan tujuan yang tersirat
3.2. Membuat para-frasa lisan  Uraian tertulis yang telah dibaca atau yang telah didengar, diungkapkan kembali secara lisan dengan kalimat sendiri dengan menerapkan teknik membuat parafrasa, kata, atau ungkapan yang bersinonim
 Rekaman berita, artikel pendek, berita yang di-bacakan dengan gaya penyajian yang bervariasi (urutan/pola kronologis, sebab akibat, dll.)  Cermat dalam meng-olah informasi, santun dalam me-nyajikannya  Teknik kalimat para-frasa, kata, atau ungkapan yang ber-sinonim  Menyampaikan infor-masi yang sama dengan kata atau kalimat sendiri
3.3. Menerapkan pola gilir dalam ber-komunikasi  Kata, bentuk kata, dan ungkapan yang santun, sesuai dengan situasi komunikasi, demi kelangsungan kenya-manan komunikasi, digunakan dengan menerapkan pola gilir  Film/sinetron
 Naskah drama/sinetron/ film
 Suasana kehidupan sehari-hari (rumah tangga, arisan, sanggar dan lain-lain) diskusi kelompok (di sekolah, pramuka, dunia kerja, ddan lain-lain.)  Menghargai mitra bicara
 Peka terhadap ke-sempatan
 Sadar akan relevansi pembicaraan  Pemahaman konsep pola gilir (termasuk pengertian sikap yang harus dimiliki)  Menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi dengan memanfaat-kan kata, bentuk kata dan ungkapan yang tepat demi kelang-sungan dan kenya-manan komunikasi
3.4. Bercakap-cakap (konversasi)  Kata atau ungkapan yang tepat, untuk memulai atau mengakhiri suatu percakapan yang sedang berlangsung (formal atau tidak formal, tatap muka melalui saluran telekomu-nikasi) digunakan dengan menerapkan etika dan norma, serta model ungkapan yang efektif
 Keberlangsungan percakapan dengan pola gilir secara aktif (misalnya mengajukan per-tanyaan, tanggapan, pen-dapat, atau menyatakan penghargaan) dipertahankan dalam berkomunikasi dengan menerapkan etika dan norma berkomunikasi
 Topik pembicaraan (topic switching) secara halus dialih-kan dengan menggunakan ungkapan yang tepat
 Pendapat yang berbeda se-cara halus tanpa menimbul-kan konflik dinyatakan dengan tetap menjaga keberlang-sungan berkomunikasi
 Sumber informasi berupa:
- Siaran atau rekaman siaran dari radio/tv, ceramah, pidato, khotbah, dan lain-lain.
- Teks bahan ajar, artikel dari surat kabar/majalah, dll. yang memuat infor-masi tentang etika, norma, dan model ungkapan yang efektif, yang memuat masalah yang perlu dipahami dan/atau dicarikan solusinya  Menghargai mitra bicara
 Peka terhadap kesem-patan
 Sadar akan relevansi pembicaraan  Etika dan orma konversasi
 Model ungkapan yang efektif
 Kata/ungkapan yang bernuansa konflik  Menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi dengan memanfaat-kan kata, bentuk kata, dan ungkapan yan tepat demi kelang-sungan dan kenya-manan komunikasi
 Mengungkapkan gagas-an, tanggapan, penda-patan, dan penghargaan
 Mengalihkan topik pem-bicaraan secara halus dengan menggunakan ungkapan yang tepat
 Mengungkapkan gagas-an, pendapat dan pan-dangan yang berbeda dengan tetap menjaga keberlangsungan dan kenyamanan berkomu-nikasi

3.5. Berdiskusi  Gagasan yang relevan dengan topik diskusi, menggunakan kalimat yang baik, dan yang sesuai dengan sifat gagasan disampaikan dengan menggu-nakan teknik atau cara yang tepat
 Pendapat yang berbeda (menyanggah) secara halus tanpa menimbulkan konflik dikemukakan dengan santun dan ekspresif
 Dalam beragumentasi secara santun dan relevan dengan topik diskusi, kalimat yang baik digunakan dan pendapat mitra bicara dihargai
 Simpulan berdasarkan fakta, data, dan opini dibuat dengan menerapkan konsep dan teknik  Sumber informasi berupa:
- siaran atau rekaman siaran dari radio/tv, ceramah, pidato, khotbah, dll.
- teks bahan ajar, artikel dari surat kabar/majalah, dll., yang memuat masalah yang perlu di-pahami dan/atau dicari-kan solusinya  Santun dalam berbicara dan menyampaikan gagasan
 Santun dalam berbicara dan menyampaikan pendapat yang berbeda
 Simpatik dan persuasif dalam menyampaikan argumentasi dan me-nyampaikan penghar-gaan
 Tegas dan meyakinkan dalam berekspresi  Teknik atau cara me-nyampaikan gagasan yang relevan
 Ungkapan yang mendu-kung gagasan
 Teknik atau cara me-nyampaikan gagasan yang berbeda atau menyanggah pendapat orang lain
 Konsep dan teknik ber-agumentasi
 Konsep dan teknik me-nyampaikan simpulan  Menyampaikan gagasan yang relevan dengan menggunakan ungkapan yang tepat
 Menyampaikan alasan, bukti yang bertentangan dengan pendapat orang lain dengan santun dan ekspresif
 Mengkomunikasikan argumentasi dan per-nyataan penghargaan secara menyakinkan dan simpatik
 Menyampaikan simpulan dengan tepat atas dasar fakta dan opini
3.6. Bernegosiasi  Gagasan, pendapat atau komentar dalam kalimat yang menarik dan santun dikemu-kakan dengan memperhatikan butir-butir yang akan dibahas
 Sumber informasi berupa program kegiatan perse-orangan kelompok, organi-sasi siswa atau sekolah untuk dinegosiasikan  Rasional dan kritis
 Santun, rasional, dan mantap dalam me-nyanggah pendapat  Butir-butir yang harus diperhatikan dalam mem-bahas suatu program kegiatan
 Kiat yang efektif untuk menyanggah suatu program kegiatan  Menyampaikan gagasan atau pendapat dalam kalimat yang santun pada saat membahas program kegiatan

 Pendapat disanggah dengan bahasa santun, dengan tetap menghargai pendapat mitra bicara
 Mitra bicara diyakinkan untuk menyetujui pen-dapat pembicara, dengan sikap dan kalimat yang benar dan argumentasi yang bernalar, diyakinkan  Kiat yang efektif untuk meyakinkan mitra bicara  Menyanggah gagasan atau pendapat dalam kalimat yang santun pada saat membahas program kegiatan
 Mengemukakan pen-dapat dengan kalimat yang baik dan ber-argumentasi dengan bernalar untuk me-yakinkan mitra bicara
3.7. Menyampaikan laporan  Fakta (dalam tuturan deskriptif, ratatif, eksposi-toris) yang berkenan dengan keadaan atau peristiwa dilaporkan dalam bentuk tuturan deskriptif, naratif, dan ekspositoris
 Keadaan atau peristiwa secara kronologis (dalam tuturan deskriptif, naratif, ekspositoris) sesuai dengan tuntutan keadaan atau peristiwa dilaporkan secara lisan
 Rangkuman (kategorisasi) atau simpulan (analisis/ sintesis) disampaikan dengan menerapkan teknik membuat rangkum-an dan simpulan

 Sumber informasi berupa:
- Siaran atau rekaman siaran dari radio/tv, ceramah, pidato, khotbah, dll.
- Teks bahan ajar, artikel dari surat kabar/majalah, dll., yang memuat laporan tetntang sesuatu peristiwa atau keadaan
 Kritis terhadap ke-benaran fakta/data/ informasi yang di-laporkan
 Sadar akan penting-nya faktor waktu dalam pelaporan peristiwa/keadaan
 Cermat dalam mem-buat rangkuman dan simpulan
 Hal-hal yang perlu di-perhatikan dalam laporan lisan
 Penanda urutan waktu kejadian
 Teknik membuat rang-kuman dan simpulan  Menyajikan laporan lisan secara santun dan jelas dalam bentuk tuturan deskriptif, naratif, dan ekspositoris
 Menyajikan laporan lisan secara kronologis
 Menyampaikan rang-kuman atau simpulan yang akurat berdasar-kan analisis/ sistesis atau kategorisasi
4. Menulis
4.1. Membuat karangan  Kerangka karangan dibuat berdasarkan topik-topik tertentu
 Kerangka ditulis (seder-hana atau kompleks) dengan bahasa yang baik, bernalar, menarik, sesuai dengan sifat dan jenis tulisan (narasi, deskripsi, argumentasi, eksposisi)  Bahan ajar, artikel surat kabar/majalah  Tekun berusaha me-mahami butir-butir inti dari artikel/ tulis-an yang akan di-susun menjadi kerangka karangan
 Cermat memilih pengalaman, data dan hasil pengamat-an yang disusun menjadi karangan
 Ciri-ciri jenis karangan seperti deskripsi, narasi, eksposisi dan argumentasi
 Teknik dan cara me-nyusun kerangka karangan dan cara mengembangkannya menjadi karangan  Membuat kerangka karangan
 Mengembangkan paragraf yang utuh dan padu
 Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan
4.2. Membuat deskripsi  Gambar, bagan, label, grafik, diagram, matriks, suatu peristiwa yang dilihat atau informasi yang didengar (150-200 kata dalam 30 menit), ditulis-kan secara deskriptif  Karikatur (misal:sepakbola ria), diagram, matriks, dan grafik, dengan teks yang tidak lengkap/salah (misal: grafik pengunjung perpustakaan)
 Imajinatif, cermat, dan sistematis  Ciri-ciri wacana deskripsi dan cara-cara membahasakan data yang berupa gambar  Menulis bermacam teks, gambar atau peristiwa dengan wacana deskripsi secara benar
4.3. Membuat eksposisi  Sejumlah peristiwa secara kronologis (150-200 kata dalam 30 menit), termasuk gambar, bagan, grafik, diagram, dan matriks di-tuliskan secara eksposi-toris  Peristiwa lokal, regional, nasional dan internasional yang terdapat dalam buku ajar, koran, dan majalah  Penuh perhatian, tertarik, dan senang terhadap setiap pengalaman, baik pribadi maupun pengalaman yang lain  Rambu-rambu pe-nulisan wacana eksposisi  Menuliskan peristiwa dengan menggunakan bentuk ekspositoris urutan waktu, ter-masuk pemaparan tabel, grafik, dan se-bagainya

4.4. Membuat ringkasan/ rangkuman  Catatan dalam bentuk skema atau bagan yang berisi butir-butir informasi yang akan diringkas atau dirangkum, dibuat dalam bahasa yang lugas dan jelas
 Ringkasan secara jelas dalam bahasa yang baik dan ditulis
 Rangkuman secara singkat, padat, dan jelas ditulis dalam bahasa yang baik  Buku ajar, artikel, tajuk rencana, dan sebagainya  Cermat dan kritis dalam menentukan intisari yang dibaca  Ringkasan yang berupa bagan (butir-butir saja) dan berupa teks
 Teknik membuat bagan dan rangkuman
 Bentuk bagan yang digunakan untuk ringkasan
 Panduan/proses membuat ringkasan dari catatan butir-butir ke dalam bagan atau skema sampai kepada pengembangan ringkasan yang utuh  Membuat ringkasan yang singkat dan padat dalam bahasa yang lugas dan jelas berdasarkan bagan yang dibuat
4.5. Membuat simpulan  Simpulan dengan kalimat yang tidak taksa makna (ambigu) dirumuskan dengan jelas, lugas, dan bernalar, berdasarkan informasi yang diperoleh atau berdasarkan opini perumus  Sejumlah data yang tersaji, misal: data nilai pelajaran bahasa Indonesia satu kelas dan nilai setiap siswa  Cermat mengolah data dalam me-nyusun simpulan  Jenis-jenis simpulan: deduksi dan indusksi  Merumuskan secara tertulis simpulan ter-hadap data yang di-olah (tidak merumus-kan pendapat pribadi)
KOMPETENSI : Berkomunikasi dalam bahasa Indonesia setara dengan kualifikasi Unggul (Skor UKBI 593 – 716)
KODE : C
DURASI PEMELAJARAN : 56 Jam @ 45 menit

SUB KOMPETENSI KRITERIA KINERJA RUANG LINGKUP MATERI POKOK PEMELAJARAN
SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN
1. Menyimak
1.1. Mengapresiasi seni berbahasa  Reaksi kinetik (menunjukkan sikap memperhatikan, men-catat) dan reaksi verbal (bertanya, berkomentar terhadap apa yang didengar, diberikan, diajarkan untuk mening-katkan apresiasi terhadap seni berbahasa
 Makna atau pesan yang terkandung dalam ungkapan idiomatik termasuk pepatah, peribahasa, bidal dalam cerpen, novel, puisi, dan iklan dijelaskan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni berbahasa
 Nama penulis/pengarang, tokoh-tokoh, tempat, dan waktu cerita diungkapkan secara lisan atau tulis  Iklan dan teks sastra sederhana (prosa, puisi, pidato, khotbah, dsb.) yang menarik dan diperkirakan merangsang pertumbuhan apresiasi seni berbahasa  Tertarik, tergerak, ter-dorong untuk menge-tahui lebih jauh atau lebih banyak mengenai seni berbahasa (prosa, puisi, iklan, pidato, khotbah, dsb.)  Konsep/makna apresiasi seni berbahasa dan kiat untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni berbahasa (prosa, puisi, iklan, pidato, khotbah, dsb.)  Menghargai karya sastra yang baik yang baik dan cepat memberikan reaksi baik secara kinetik mau-pun verbal
 Mengasosiasikan karya sastra dengan dengan penulis/ pengarangnya, mampu mencatat atau menyebutkan nama tokoh, tempat, dan waktu dari sutau cerita yang didengar
 Memahami makna kata atau ungkapan dalam karya yang di-dengar
2. Membaca
2.1. Mengapresiasi teks seni berbahasa (tugas baca di luar kelas)
 Reaksi verbal (bertanya, ber-komentar) diberikan terhadap apa yang dibaca
 Makna atau pesan yang ter-kandung dalam teks sastra dijelaskan termasuk makna ungkapan idiomatik (seperti pepatah, peribahasa, dan bidal), serta cerpen, novel dan puisi, dijelaskan
 Secara lisan atau tertulis, nama penulis/pengarang, tokoh-tokoh, tempat dan waktu yang terdapat dalam teks diungkapkan secara lisan dan tulis
 Peristiwa sebuah cerita secara runtut, termasuk kemungkin-an lanjutan cerita diungkap-kan dan diceritakan kembali baik secara lisan maupun tulis
 Bahasa indah dalam bentuk pilihan kata, ungkapan atau struktur kalimat diidentifikasi untuk memahami makna dan pesan tersirat
 Makna dan pesan yang ter-sirat dari bahasa indah di-pahami untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni ber-bahasa
 Istilah teks sastra dikaitkan dengan kehidupan keseharian
 Berbagai teks iklan dan sastra dari bermacam-macam sumber (surat kabar, majalah, buku ajar, lirik lagu, karya sastra, dll.) bervariasi (100-1000 halaman)
 Kegemaran kebiasaan, dan kesenangan/ kenikmatan membaca
 Menghargai bahasa indah, pendapat orang lain yang berbeda
 Kritis terhadap apa yang dibaca
 Peka terhadap masalah sosial budaya yang di-hadapi masyarakat
 Kebiasaan membaca sebagai kebutuhan hidup

 Cara/teknik membaca cepat untuk pemahaman atau kesenangan
 Informasi dan contoh tentang bahasa indah, teks sastra, karya sastra, imaji, apresiasi, dan kreativitas
 Membaca teks dengan kecepatan kurang lebih 250 kata per menit. Berkomentar atau ber-tanya tentang teks yang dibaca
 Menjelaskan dengan tepat makna atau pesan yang ter-kandung dalam suatu teks sastra yang di-baca, termasuk tafsir-an kata, bentuk kata, dan ungkapan idio-matik
 Mengenali nama penulis/ pengarang teks sastra yang di-baca dan dapat me-nyampaikan nama tokoh dan tempat yang terdapat dalam teks
 Menceritakan kembali secara runtut peristiwa yang di-tuturkan dalam teks, dengan atau tanpa opini pembaca teks mengenai kemungkin-an lanjutan atau akhir cerita
 Memahami makna dan pesan yang tersirat dari bahasa indah yang di-baca
 Menghubungkan teks dengan keadaan dalam kehidupan nyata
 Pendapat/tanggapan ter-hadap isi dan cara penyajian karya yang dibaca, dinyata-kan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni ber-bahasa
 Menyampaikan pandang-an/komentar terhadap isi dan cara penyajian teks/ karya sastra yang dibaca

3. Berbicara
3.1. Mengapresiasi seni berbahasa  Teks sastra (prosa, puisi) dengan menggunakan tekan-an, irama dan intonasi yang tepat dibaca nyaring oleh peserta diklat
 Makna atau pesan yang ter-kandung di dalam ungkapan idiomatik (seperti pepatah, peri-bahasa, bidal), cerpen, novel, dan puisi dijelaskan oleh peserta diklat secara lisan dengan mengkaitkannya pada kehidupan ke-seharian
 Isi sebuah teks sastra diung-kapkan dan diceritakan kembali dengan runtut oleh peserta diklat
 Lirik lagu, teks iklan, prosa, puisi
 Teks sastra lirik lagu dan teks iklan yang mengandung ungkapan idiomatik yang dapat dikaitkan dengan ke-hidupan keseharian  Senang, tertarik dan gemar membaca nyaring teks yang mempunyai nilai ke-indahan
 Tertarik pada teks yang mempunyai nilai ke-indahan dan tergugah untuk menekuninya lebih lanjut
 Tertarik pada karya sastra dan sungguh-sungguh berusaha memahaminya
 Sadar, peka dan cermat terhadap pengulangan mubazir dalam kalimat/ paragraf
 Hakikat apresiasi
 Langkah-langkah mening-katkan apresiasi seni berbahasa mulai dari yang akrab dengan lingkungan siswa sampai dengan apresiasi karya sastra
 Contoh ungkapan idio-matik yang terdapat dalam seni berbahasa
 Teknik memahami dan mengungkapkan kembali isi teks sastra  Membaca nyaring teks yang mempunyai nilai keindahan dengan mem-perhatikan tekanan, irama, dan intonasi yang tepat
 Menjelaskan makna atau pesan yang terdapat dalam ungkapan idio-matik berdasarkan pe-mahaman yang mantap
 Mengungkapkan kembali isi teks sastra dengan runtut
4. Menulis
4.1. Menulis surat  Surat pemberitahuan/ edaran, ditulis oleh peserta diklat sesuai dengan aturan dan tujuan komunikasi
 Surat undangan, ditulis oleh peserta diklat sesuai dengan aturan dan tujuan komunikasi
 Contoh dari berbagai surat yang lazim digunakan dalam masyarakat (pemberitahu-an/edaran, undangan, pena-waran, pesanan, perjanjian, lamaran
 Struktur format, dan bahasa surat  Sadar atas perbedaan atas jenis surat
 Taat terhadap konvensi format yang berlaku
 Cermat dalam me-milih ragam bahasa, sesuai dengan jenis surat  Informasi tentang bahasa dan format surat pada umumnya (singkat, padat, lugas) dan ciri-ciri setiap jenis surat pada khusus-nya  Cermat dan teliti dalam menulis berbagai jenis surat sesuai dengan tujuan komunikasi
 Surat penawaran dan pesanan ditulis oleh peserta diklat sesuai dengan aturan dan tujuan komunikasi
 Pesan ditulis oleh peserta diklat
 Perjanjinan sederhana ditulis oleh peserta diklat sesuai dengan aturan dan tujuan komunikasi
 Surat lamaran kerja ditulis oleh peserta diklat sesuai dengan aturan dan tujuan komunikasi
4.2. Menulis laporan  Laporan sederhana ditulis dalam format yang lazim dengan bahasa yang baik
 Kebenaran rencana atau pelaksanaan kegiatan dinyatakan secara tertulis kepada pemberi perintah
 Kebenaran laporan dikonfir-masikan kepada pimpinan langsung secara tertulis  Data/informasi pokok mengenai kegiatan/hal yang akan dilaporkan
 Data/informasi tambahan sebagai kelengkapan laporan  Sadar akan waktu dan tanggungjawab serta cermat dalam menyusun laporan  Informasi mengenai format laporan sederhana
 Ciri bahasa laporan  Menyusun laporan ter-tulis sederhana dalam format yang lazim dengan bahasa yang baik, untuk mendapat-kan konfirmasi dari pimpinan langsung

Komentar
  1. agus sudaryanto mengatakan:

    menurut saya bagus bermanfaat dan berguna tapi kurang lengkap.seperti contoh-contoh kegiatan ga ada sayarasa cuma itu.ttting

  2. rosad mengatakan:

    makasih, tapi ini cuma kurikulum dan memang hars ada perbaikan.

  3. lisaaaa mengatakan:

    iaa ini kurikulum pdhl yg saya cri materi…..

  4. FATMA mengatakan:

    KURANG LENGKAP

  5. FATMA mengatakan:

    KURANG LENKAP

  6. Agam TrueBlue mengatakan:

    sy nyari materinya :(

  7. darmita mengatakan:

    gk lngkappp
    yg saya cri tidak ada

  8. lisa mengatakan:

    kurang lengkap dan kurang jelas

  9. tiara mengatakan:

    Materinya manaa ??

  10. ristychoisiwon elflovesuju saranghaesiwonest mengatakan:

    iyyaaa.,,, pdhal sya mw nyari contoh teks pengumuman”y, tpie yg sya cri gg add..,, :(

  11. nita mengatakan:

    contoh narasi, eksposisi dan disposisi mna?

  12. Aspiah mengatakan:

    Yg sy cri g’ ada

  13. yunazaa mengatakan:

    mksud nya apa?
    aq mau materi mengenai kesalahan berbahasa dalam menyimak, bkn inti nya aja….. :(

  14. feby mengatakan:

    contoh kalimat terperinci tetapi sudah santun

  15. daffa mengatakan:

    gak lengkap

  16. dawa mengatakan:

    ddewqdqad
    wad

  17. laura mengatakan:

    walaupun dikatakan kurang lengkap tapi bagi saya,ada manfaatnya kho….

  18. Rintis mengatakan:

    Huuh,, kenapa gk ada yg kucari !!

  19. sabila.s mengatakan:

    ga da yang saya cari!

  20. ida mengatakan:

    q mau mencre materi ttng membaca cepat bkn inti x z.

  21. hahamad mengatakan:

    jelas …………………………………………………………………………….. !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  22. Atie mengatakan:

    Pusingggg

  23. Nanda mengatakan:

    gak lengkap ..
    tolong di lengkapi lg donk …

  24. Nanda mengatakan:

    saya mau cari perbedaan bentuk perintah kerja secara tertulis dari segi struktur dan penggunaan bahasa ?

  25. linhdaa mengatakan:

    mncari model ungkpan yng efeltif

  26. ledi mengatakan:

    saya mencari berita tapi
    gak ada
    seballllllll

  27. Johnf457 mengatakan:

    Wow, fantastic blog layout! How long have you been blogging for? you made blogging look easy. The overall look of your web site is wonderful, let alone the content! cabgdfbcfdfk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s