Pembelajran Berbasis Produksi

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan industrial Training, keberhasilanya di tandai dengan sejauh mana output (tamatan, dan produk barang / jasa ) nya mempunyai relevansi dan keunggulan kompetitif, baik ditingkat nasional, regional, maupun internasional.

Untuk mencapai tujuan ini, pengembangan program sekolah berorentasi pada kebutuhan pasar (deman driven), yang dikemas dalam competencies based training (CBT), dan strategi pembelajarannya dilaksanakan melalui kegiatan produksi/production Based Training (PBT). Pendekatan pembelajaran menekankan pada bagaimana siswa belajar /membelajarkan siswa (student centered learning), belajar tuntas (Mastery Learning), dan Behavior Outcome Aproach. Pendekatan ini sebagai upaya untuk menghasilkan tamatan yang profesional, produktif, dan dilandasi dengan ketrampilan berfikir secara kritis, kreatif, dan inovatif dalam menanggapi berbagai kondisi dilingkungan kerjanya. Evaluasi hasil belajar untuk memberikan pengakuan terhadap keberhasilan pemenuhan kompetensi, dilaksanakan dengan pendekatan penilaian acuan patokan (PAP)/criterient reference assessment dan eksternal evaluation melalui proses verifikasi. Sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut diatas, maka Hasil/produk belajar dikemas menjadi portfolio hasil belajar siswa sebagai bukti belajar yang mampu menggambarkan kompetensi siswa (Learning Evidence Indecator) , mudah di telusuri (treserable), dan dapat dijadikan bahan verifikasi dalam uji kompetensi.

Strategi ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan kesesuaian program dengan potensi wilayah dan kebutuhan masyarakat, sehingga program sekolah dapat mengakar kuat pada masyarakat dan mampu memberdayakan peserta didik, bukan masyarakat/siswa yang harus menyesuaikan diri dengan program sekolah, yang ahirnya sekolah tidak mampu berperan secara optimal dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan seperti ini diharapkan keberadaan SMK akan mampu memberi makna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sasaran dinamika pengembangan penyelenggaraan pendidikan ini diarahkan agar SMK mampu berperan aktif dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan ini dilandasi oleh pemikiran-pemikiran, sebagai berikut:

1. Dalam pasal 4 UU No 2 tahun 1989 (UUSPN) ditegaskan bahwa pendidikan Nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Mengacu pada tujuan pendidikan menengah pasal 3 ayat (2) PP No 29 tahun 1990 bahwa pendidikan SMK antara lain untuk menyiapkan siswa memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesionalisme dan menyiapkan tamatan agar menjadi warga negara yang produktif, adaptif dan kreatif.

Dari sini tersirat sangat jelas bahwa melalui pendidikan diharapkan mampu membentuk manusia yang professional produktif, adaptif/kreatif dan dilandasi oleh sistim nilai, bahkan karakteristik manusia Indonesia yang cerdas juga harus disertai sifat kepribadian yang mengacu pada aspek sistem nilai.

2. Kondisi penyelenggaraan pendidikan selama ini pada umumnya masih berorientasi lebih mementingkan aspek kognitif. Para siswa di sekolah disajikan berbagai informasi secara kognitif, sedangkan aspek afektifnya praktis terabaikan. Akibat dari penyelengaraan dan pembelajaran seperti ini, siswa tidak mempunyai sistem nilai (value system) yang dapat digunakan untuk membentuk mental dan etos kerja yang mandiri (carachter building). Penyelenggaraan seperti ini dalam jangka panjang siswa banyak mengetahui informasi, tetapi tidak tahu bagaimana harus bersikap dan berbuat dengan informasi dan pengetahuan yang mereka miliki. Akibat selanjutnya yang berkembang pada diri siswa, dan orang tua adalah mementingkan simbul dan formalitas.

Kecenderungan ini terlihat jelas dari reaksi siswa dan orang tua bahwa pada setiap ahir tahun pendidikan yang ditanyakan lulus apa tidak, simbul-simbul dan formalitas seperti ijazah, sertifikat menjadi status sosial dari simbul akademik yang harus dimiliki, tanpa mempertimbangkan nilai hakiki dari surat berharga tersebut, yang seharusnya dihayati dan dimiliki, agar mampu menghantarkan dirinya memiliki keunggulan kompetitif.

3. Memasuki Era Global dimana perkembangan masyarakat dan IPTEK yang begitu cepat mengisyaratkan perlunya reorentasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara aktif siswa perlu dikondisikan untuk menguasai dan mengembangkan kualitas pribadinya (jujur, disiplin, mandiri, kreatif, motif berprestasi, terbentuknya etos kerja dan lain-lain), kemampuan strategis lainnya yang perlu dikembangkan adalah kemamampuan yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja dan hidup di masyarakat. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain untuk menjadi pelajar yang mandiri, hubungan interpersonal, kerjasama berfikir kreatif, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, learning how to learn, colaborattion, dan self management.

Pencapain tujuan-tujuan pendidikan seperti ini tidak dapat dicapai melalui kegiatan belajar mengajar yang sifatnya hanya memberikan informasi, tetapi harus dilakukan melalui strategi dan metodologi yang mampu membelajarkan siswa secara aktif, dan didukung dengan pengembangan lingkungan sekolah secara profesional. Akumulasi mata pelajaran yang diberikan pada suatu lembaga pendidikan tidak akan mampu membentuk kompetensi dan profesionalisme siswa, tanpa didukung oleh kondisi sekolah secara keseluruhan sebagai satu sistem yang utuh.
Sekolah itu sendiri secara keseluruhan harus dirancang dan dikembangkan secara terencana, terprogram dan sistematik untuk membangun kualitas-kualitas pribadi tertentu pada diri siswa yang tidak dapat diserahkan hanya pada mata pelajaran secara terpisah. Satu hal yang sulit untuk mendapatkan tamatan yang profesional, memiliki etos kerja yang tinggi, motifasi berprestasi, bila mereka di didik pada lingkungan sekolah yang iklimnya tidak mencerminkan nilai-nilai seperti yang diharapkan.

4. Pembelajaran Berbasis Kompetensi (CBT)
Pengembangan kurikulum dengan pendekatan CBT merupakan upaya meningkatkan relevansi pendidikan secara internal maupun eksternal. Secara spesifik CBT dikembangkan berorentasi pada duniakerja, yang menuntut penguasaan kompetensi secara profesional dan produktif, sehingga lulusannya mampu bekerja atau berusaha sendiri dalam bidangnya secara produktif. Dengan pengertian seperti itu maka kurikulum harus memuat pembelajaran untuk membekali tamatan agar dapat melaksanakan tugas-tugas pekerjaan yang ada di lapangan kerja.

5. Pembelajaran Berbasis Luas dan Mendasar melalui Broad Based Curricullum (BBC)
BBC mengutamakan pada pemberian bekal agar tamatannya dapat berkembang secara berkelanjutan, sehingga pembelajaran-nya banyak memberikan kemampuan-kemampuan (Intelektual skill/kognitive skill dan emotional skill), yang memungkinkan tamatan dapat mengikuti perkembangan secara terus menerus. Kemampuan ini dapat diupayakan melalui peningkatan/revitalisasi program adaptif dan normatif serta menekankan pembekalan konsep/prinsip dasar kejuruan dalam proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa mempunyai pemahaman yang kuat terhadap dasar-dasar kejuruan, sehingga dalam menghadapi perkembangan dan permasalahan yang ada di dunia kerja, siswa mampu mengatasinya.

Dengan perpaduan pendekatan antara CBT dan BBC, kurikulum harus dipandang dengan makna sebagai berikut:

Kompetensi tidak semata-mata diartikan sebagai kemampuan melaksanakan tugas (pekerjaan) secara teknis yang biasanya bersifat unjuk kerja (performance observable), tetapi juga menyangkut kemampuan mendasar (Key Competencies) yang lebih bersifat intelektual dan mental emosional yang sangat diperlukan untuk pengembangan sikap profesional dalam bekerja dan pengembangan aspek aspek kehidupan yang lebih luas. Kemampuan itu seperti peka dan responsif terhadap berbagai hal yang terjadi, rasional dan berfikir logis, membuat keputusan, bertanggung jawab, mandiri sekaligus bekerjasama. Penggunaan pendekatan kompetensi dimaksudkan agar SMK mampu menghasilkan tamatan yang memiliki kemampuan sekaligus kewenangan. Seseorang dikatakan berkompeten bila memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan (standar), oleh karena itu program di SMK harus tersetandar mulai dari profil kompetensi, bahan pembelajaran, penyelenggaraan program, hingga tahap evaluasi dan sertifikasi.

BBC tidak hanya diartikan sebagai berbasis luas yang menunjuk pada pemberian dasar-dasar kejuruan yang lebih besar, tetapi juga memberi dasar-dasar yang benar-benar mendasar tentang sesuatu yang harus dikuasai, baik menyangkut pemahaman terhadap kemengapaan (know why) maupun menyangkut penguasaan teknis bagaimana (know how). Dengan bekal kemampuan seperti ini diharapkan kemampuan adaptabilitasnya tidak semata-mata bersifat kuantitaif, tetapi juga secara kualitatif.

6. Pembelajaran berorentasi pada Life Skill
Life Skill adalah suatu pendekatan pembelajaran untuk memberikan bekal kecakapan hidup kepada siswa. Kecakapan hidup secara garis besar dikelompokkan dalam:

a. Menguasai kompetensi spesialis, adalah penguasaan-kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja/ masyarakat untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan persyaratan kompetensi yang ditekuninya.
b. Kompetensi Problem solving, adalah penguasaan konsep-konsep sesuai dengan spesialisasi yang di tekuninya untuk memecahkan masalah yang timbul di lingkungan kerja atau untuk mengembangkan teknologi agar di peroleh efektifitas dan efisiensi, guna meningkatkan daya saing.
c. Kompetensi diri (personal competencies), yaitu kemampuan
Kreatifitas untuk berbuat/bertindak/pengambilan keputusan dicision making dalam melakukan pekerjaan tanpa menunggu perintah orang lain.
d. Kompetensi sosial. Yaitu kemampuan seseorang berkomunikasi, dan bekerjasama dalam team.

Untuk membentuk kompetensi-kompetensi seperti tersebut diatas, diperlukan keterpaduan yang harmonis antara rumusan program normatif, adaptif dan produktif, serta pengembangan strategi dan metodologi pembelajaran yang dinamis. Yang dimaksud pembelajaran yang dinamis adalah pengembangan selalu dilakukan secara sistimatis sehingga diperoleh peningkatan yang siknifikan terhadap pembentukan kompetensi siswa secara menyeluruh.

B. Desain Program PBT

Pembelajaran berbasis produksi/Production Based Training merupakan salah satu strategi pembelajaran yang sudah di isyaratkan dalam kurikulum sekolah Menengah Kejuruan dalam Landasan Program dan Pengembangan. PBT terdiri dari prinsip strategi dan pendekatan serta metoda untuk melaksanakan proses pembelajaran program produktif.

Pengembangan strategi PBT merupakan sinkronisasi/paduan antara penguasaan konsep dan prinsip terhadap suatu obyek serta penerapannya dalam kegiatan produksi, dengan memperhatikan fakta dan menggunakan prosedur tetap untuk menghasilkan suatu produk yang standar. Ketentuan ini diacu dalam rangka pembelajaran untuk membentuk kompetensi dan sikap profesionalisme siswa.
1. Orentasi

Strategi PBT adalah suatu upaya pembelajaran yang difokuskan pada potensi siswa, dan kebutuhan wilayah untuk menghasilkan tamatan yang profesional, serta mempunyai relevansi yang tinggi, dengan memperhatikan prinsip-prinsip efektifitas dan efisiensi. an Pendekatan ini sasaran utamanya adalah agar SMK dapat berperan dalam meningkatkan pemberdayaan potensi wilayah untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

2. Pengembangan Program

Program pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada produk unggulan sekolah/daerah, dan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki lapangan kerja dan berusaha mandiri di bidang pertanian yang relevan. Pengembangan program juga memperhatikan optimalisasi, efisiensi, kelestarian/ sustanibility agar mampu menggambarkan suatu pola agribisnis yang terpadu, mengedepankan nilai-nilai kependidikan, dan bisnis. Selain komponen-komponen di atas, faktor yang juga harus dipertimbangkan agar program dapat berdayaguna dan berhasil guna adalah:

a. Berorientasi dan menyesuaikan dengan lingkungan hidup yang meliputi: lingkungan biologis, lingkungan geografis termasuk kedekatan dengan kegiatan ekonomi, lingkungan sosial dan ekologis.
b. Mempertimbangkan kebutuhan masa yang akan datang (perkembangan IPTEK, kelestarian lingkungan/sustainability dan kesejahteraan masyarakat).
c. Mempertimbangkan aspek ekonomi, bahwa program yang dikembangkan harus mampu mendorong tumbuhnya perekonomian daerah, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekolah.

3. Ruang Lingkup Materi

Materi pembelajaran dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan pengetahua.n, ketrampilan dan sikap untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang dicita-citakan dalam UUSPN No 2 tahun l989 dan tujuan pendidikan menengah dalam PP No 29 tahun l990.

Materi pembelajaran secara umum merupakan paduan dari semua disiplin ilmu, terdiri dari materi kejuruan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk berusaha dibidang pertanian, materi-materi adaptif, dan normatif yang secara fungsional mendukung dalam pembentukan manusia profesional, yang dilandasi oleh terbentuknya watak, sikap dan karakter sesuai dengan kepribadian bangsa.
4. Strategi Pembelajaran

Pembelajaran diarahkan kepada berbagai strategi yang dianggap cocok dan sesuai dengan tujuan, keadaan, dan kebutuhan lingkungan sekolah. Secara kusus strategi yang direkomendasikan adalah belajar tuntas, berbasis produksi, dan pembelajaran berorentasi pada siswa/ belajar siswa aktif (student centered learning), serta behavior Outcome Aproach.
Melalui pendekatan belajar seperti ini selain akan mampu membentuk manusia yang profesional, diharapkan juga akan mendorong munculnya sikap positif dalam belajar.

Secara diagram siklus munculnya sikap positif dalam belajar dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Siklus terbentuknya sikap positif dalam belajar.
Secara psikologis sikap positif ini diharapkan mampu menjadi sistem nilai pada diri siswa, dan melalui ketuntasan belajar, kapasitas belajar (learning capasity), dan kreatifitasnya akan berkembang menumbuhkan etos kerja dan rasa percaya diri/self confident dalam melakukan kegiatan produksi.

5. Pendekatan Pembelajaran

Kegiatan belajar Mengajar diarahkan untuk membentuk siswa yang profesional dan produktif dengan mengedepankan pengembangan (kognitive skill, Psikomotorik Skill, dan Afective skill) serta personal skill sesuai dengan karakter dan tuntutan kompetensi. Pelaksanaan proses pembelajaran diorganisir secara bertahap dengan memperhatikan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa serta tingkat kesulitan/kompleksitas kompetensi (mulai dari yang kongkrit menuju pada yang abstrak). Untuk memperoleh efisiensi, pengorganisasian belajar dapat dilakukan secara berkelompok (group) atau individu.
Pengorganisasian ini dirancang dengan mempertimbangkan potensi individu siswa, daya dukung, dan perubahan perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa.

Layanan guru kepada siswa diberikan secara individual sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing siswa. Dari dimensi pembelajaran berbasis produksi, ada dua komponen utama yaitu tentang kompetensi bidang pertanian, dan metodologi pembelajaran pertanian.

Ditinjau dari kompetensi kejuruan pertanian, seorang guru harus mampu mentransfer kompetensi dan teknologi yang berkembang dan dibutuhkan di dunia kerja sesuai dengan ruang lingkup kompetensi yang dibutuhkan siswa.

Ditinjau dari metodologi/desain pembelajaran, guru harus mampu menyiapkan kegiatan belajar yang dapat menumbuhkan motifasi untuk berprestasi dan menjadi pelajar yang mandiri, mampu bekerjasama dalam team, serta berani mengambil keputusan pada berbagai kondisi dilingkungannya. Dari fungsi ini maka proses pembelajaran mengutamakan bagaimana siswa dapat belajar secara aktif, sehingga mampu memberikan pemahaman (understanding) dan penghayatan/penjiwaan terhadap perilaku yang ada pada setiap kompetensi dan mampu bertindak sesuai prosedur, dalam menghasilkan produk sesuai ketentuan standar, sehingga berkompeten.

6. Pola Penyelenggaraan

Dalam rangka mendekatkan kesesuaian mutu tamatan terhadap tuntutan kemampuan kerja dan sikap profesional yang dibutuhkan oleh lapangan kerja, maka pola penyelenggaraan pembelajaran diarahkan menggunakan wahana unit produksi/Training Production Unit (TPU) yang dikelola secara profesional.

Untuk mencapai efisiensi dan memperoleh standar operasional prosedur yang tepat, sekolah seyogyanya melakukan pengkajian dan pengembangan proses pembelajaran secara terus menerus, sampai ditemukan pola pembelajaran yang paling sesuai dalam penyelenggaraan PBM. Kesesuaian ini ditandai dengan munculnya reaksi positif pada diri siswa dalam setiap tahapan belajar.

7. Evaluasi Keberhasilan Belajar Siswa
Evaluasi Hasil belajar adalah salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran. Evaluasi tidak saja sebagai proses pengukuran dan penilaian hasil belajar siswa, tetapi hasilnya juga untuk memberikan umpan balik terhadap proses PBM. Pendekatan Evaluasi menggunakan Penilaian Acuan Patokan, sedangkan strateginya adalah menggunakan eksternal Evaluation (keberhasilan belajar siswa dinilai oleh pihak luar Depdiknas), melalui proses verifikasi bukti hasil belajar siswa.

8. Sistem Pengelolaan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dirancang dengan menerapkan prinsip magang (Apertenship Metodology) pada kegiatan produksi, dengan menggunakan wahana TPU. Melalui pendekatan ini peran guru adalah sebagai manajer kelas, baik dalam kegiatan produksi maupun dalam proses pembelajaran. Siswa dalam hal ini secara aktif terlibat dalam proses produksi sesuai dengan tingkat kompetensi siswa. Tahap awal (level 1) siswa akan terlibat secara aktif dalam kegiatan produksi, terutama dalam tugas/pekerjaan yang sederhana dan rutin dalam rangka pengembangan motorik skills/crafmenship. Tahap berikutnya (level2) peran siswa dalam kegiatan produksi sudah mulai meningkat, selain mengerjakan pekerjaan yang sifatnya motorik dalam rangka pemutahiran kompetensi dasar, juga pekerjaan yang sifatnya mnajerial, problim solving dan pengambilan keputusan pada setiap tahapan kerja. Kegiatan ini merupakan wujut aplikasi dari penguasaan konsep dasar budidaya. Secara diagram peran guru dan siswa dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut;

Gambar 2. Tahapan layanan guru dan peran siswa dalam belajar mengajar di TPU.
II. STRATEGI PELAKSANAAN
A. Kurikulum Program Produktif

Kurikulum dalam PBT dikembangkan berorientasi pada hasil/out put tamatan. Sasaran ruang lingkup kompetensi diidentifikasi dari kebutuhan kompetensi untuk berusaha/melaksanakan kegiatan usaha di bidang budidaya tanaman, dan untuk bekerja pada industri pertanian. Hasil identifikasi dari berbagai kegiatan usaha di bidang agribisnis tanaman dan beberapa jenis industri pertanian, diperoleh rumusan core kompetensi sebagai program nasional. Dalam implementasinya apabila program unggulan yang ada di sekolah hanya membutuhkan sebagian dari core kompetensi, maka sekolah wajib menyelenggarakan pembelajaran seluruh kompetensi yang termuat dalam core kompetensi, tetapi bila program unggulan yang ada di sekolah membutuhkan jenis kompetensi lebih dari core copetensi, maka sekolah dapat menambahkannya. Penambahan ini disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi program unggulan masing-masing sekolah.

B. Strategi dan Pendekatan Pembelajaran

Strategi Pembelajaran secara spesifik akan dibahas dari setiap jenis program sesuai dengan karakteristik program dan tujuan yang hendak dicapai. Secara umum pengelompokan pembahasan akan di golongkan menjadi strategi dan pendekatan pembelajaran kelompok program Normatif dalam rangka membentuk sikap mental, kelompok program Adaptif untuk membekali kemampuan berfikir logis, dan program Produktif untuk membentuk kompetensi spesialis.

1. Strategi Pembelajaran Program Normatif

Program normatif pada sekolah menengah kejuruan (SMK) mempunyai misi untuk membentuk karakter/kepribadian siswa secara mantap sesuai dengan program keahliannya. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap mata pelajaran harus mampu menjadi standar nilai dalam bersikap, berbuat dan mengambil keputusan sesuai karakter program keahlian/lingkup pekerjaan dan kepribadian bangsa.
Program normatif secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga (3), yaitu:

a. Kelompok Mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Sejarah. Kelompok mata pelajaran ini pembelajarannya menggunakan pendekatan sejarah. Pendekatan ini merupakan upaya menyampaikan informasi tentang fakta, peristiwa sejarah yang dikaitkan dengan dimensi waktu, tempat, orang, kontek sosial budaya daerah dan kejadian sejak masa lampau sampai masa sekarang. Dengan informasi itu diharapkan siswa mampu mengidentifikasi nilai positif dan negatif baik dalam aspek ekonomi, sosial budaya, norma adat kebiasaan, perkembangan teknologi dan sikap masyarakat yang berkaitan dengan bidang pertanian.
Dengan mempelajari materi-materi tersebut diharapkan siswa mampu mengambil pelajaran untuk menentukan sikap dan prilaku pada saat sekarang di mana siswa hidup bermasyarakat dan belajar dibidang teknologi pertanian, dengan memperhatikan implikasinya sesuia dengan standar nilai dan kondisi masyarakat.

Melalui pendekatan seperti ini diharapkan karakter dan kepribadian siswa menjadi mantap tidak mudah dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan yang negatif. Pendidikan normatif sebagai transfer dan transformasi tata nilai dapat disampaikan kepada siswa dengan strategi sebagai berikut:
Gambar 3. Siklus tahapan belajar siswa.
Penjelasan:
Pencarian Informasi: Tahap ini sasaran utamanya adalah mengembangkan penguasaan pengetahuan (Knowledge). Penguasaan pengetahuan merupakan hasil dari pengolahan data/informasi. Pada kegiatan ini siswa dilibatkan secara aktif dalam proses mencari tahu (process of knowing, Know how dan know why) untuk mampu menginterprestasikan informasi, membedakan antara asumsi yang benar dan yang salah, dan memandang suatu kebenaran dan hubungannya dengan berbagai situasi. Jadi disini siswa tidak hanya memiliki informasi, tetapi lebih jauh lagi siswa menempatkan diri sebagai scientis yang melakukan penelitian, berfikir dan merasakan lingkungan obyek penelitian. Informasi dalam hal ini dikaji dari materi-materi kondisi budaya, tatanilai yang berkembang dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, ekonomi termasuk perkembangan teknologi bidang pertanian dan pemerintahan saat itu, sesuai dengan topik bahasan yang ada di kurikulum.
Siswa secara individu, kelompok kecil atau klasikal, melakukan kegiatan investigasi untuk mencari dan menghimpun informasi. Perolehan informasi ini dapat melalui studi pustaka, investigasi, tutorial dengan guru atau diskusi dengan teman sekelasnya, selanjutnya siswa secara aktif harus mampu merumuskan menjadi pemahaman pribadi dan dihayati menjadi tata nilai. Melalui pendekatan seperti ini akan membentuk/mengembangkan mental skema. Mental skema digunakan siswa untuk mengorganisasikan (to form) membangun pengetahuan sesuai dengan skema mentalnya, sehingga mencapai taraf pemahaman (understanding). Dengan menggunakan mental skem dan pemahamannya, siswa menganalisis dan menafsirkan informasi yang baru diterimanya, selanjutnya mengembangkan makna yang bersifat pribadi (personal meaning) bagi dirinya. Pemahaman baru ini selanjutnya dituangkan dalam suatu tulisan dan diorganisir menjadi learning evidance indicator sebagai port folio hasil belajar siswa. Kompetensi lainya yang dapat terbentuk Melalui strategi seperti ini adalah kompetensi komunikasi, kerjasama dalam team, memecahkan masalah, mengembangkan sikap toleransi, membangun etos kerja dan mampu mengeksplorasi sumber belajar dilingkungannya.

Contoh:
Memahami Perilaku masyarakat petani pada jaman kerajaan majapahit, melalui pemahaman tersebut selanjutnya siswa merumuskan harus bersikap seperti apa pada saat sekarang, agar bidang pertanian dapat berjaya kembali.

Mengenal fakta
Secara terprogram dan terencana guru menugaskan kepada siswa untuk mengenal fakta kehidupan sosial dan tata nilai yang berkembang di masyarakat. Melalui identifikasi budaya, tatanilai yang berkembang, dan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya nilai-nilai positif maupun negatif. Melalui pengenalan fakta tersebut diharapkan siswa memahami prilaku sosial dan tatanilai yang berkembang di masyarakat.

Merefleksikan (merenungkan)
Berdasarkan pengetahuan dan pemahaman tentang nilai budaya yang positif dari gambaran masa lalu, serta tata nilai yang berkembang di masyarakat saat ini, siswa diharapkan mampu merumuskan tatanilai seperti apa yang dapat dijadikan standar dalam hidup bermasyarakat pada umumnya, kususnya dilingkungan kerja yang relevan. Hasil pemahaman terhadap standar nilai, diharapkan siswa dapat membuat suatu konsep/perencanaan prilaku apa dan bagaimana hidup bermasyarakat dengan berpegang pada standar nilai. Proses ini dalam rangka mengembangkan kemampuan nalar (Thinking Process/ cognitive skills). Diharapkan pendekatan ini secara jangka panjang kemampuan berfikir siswa menjadi terlatih, sehingga siswa akan sensitif terhadap fakta yang dapat dikaji secara lebih luas dan mendalam, termotifasi untuk bertanya tentang informasi yang relevan, memandang problem dengan cara baru merencanakan pemecahannya/aplikasinya secara sistimatis, mengevaluasi gagasan dan memperoleh solusi dari permasalahan.
Mengaplikasikan Standar Nilai
Melalui tahapan-tahapan kegiatan belajar seperti pemahaman informasi, mengenal fakta dan refleksi, diharapkan siswa mampu menerapkan standar nilai yang telah diyakini kebenarannya dalam kehidupan bermasyarakat. Penerapan standar nilai ini tentu dengan mempertimbangkan budaya dan kebiasaan yang berkembang.

Penerapan standar nilai dapat dilakukan melalui 2 kegiatan yaitu:

• Menerapkan standar nilai dalam kehidupan bermasyarakat
Dengan bekal pemahaman (tahu bagaimana berbuat, kapan harus berbuat dan bagaimana berbuat dengan menyesuaikan pada situasi yang baru) siswa dapat menerapkan standar tatanilai yang diyakini kebenarannya dalam kehidupan bermasyarakat. Penerapan ini tetap mempertimbangkan budaya dasar masyarakat, sehingga dalam aplikasinya seminimal mungkin menimbulkan implikasi negatif yang dapat menimbulkan keresahan dan penolakan masyarakat.
• Memberi penyuluhan kepada masyarakat. Melalui pemahaman terhadap standar nilai, sosial budaya masyarakat, siswa dapat memberikan penyuluhan terhadap masyarakat tentang bagaimana seharusnya bersikap dan berbuat. Penyuluhan dapat dilakukan baik secara langsung atau tidak langsung dalam kegiatan prakerin.

Metode pembelajaran untuk kelompok mata pelajaran ini dapat digunakan roll play, bermain peran, simulasi, diskusi, ceramah, study tour, observasi dan lain-lain.

Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran. Pengukuran ini mengacu kepada tujuan pembelajaran yaitu terjadinya perubahan perilaku positif dalam pembentukan karakter, watak, sikap prilaku sesuai standar nilai yang dipelajari.

Strategi Evaluasi
Observasi terhadap sikap/atribut yang akan dinilai dilakukan pada saat siswa melakukan kegiatan produksi minimal satu kali siklus produksi/setiap siswa melakukan kegiatan produksi. Materi/atribut yang dinilai adalah atribut yang terkait langsung dan dibutuhkan pada setiap kompetensi, dan atribut-atribut lainnya yang diperlukan untuk membentuk manusia sesuai dengan kepribadian bangsa.

Prinsip penilaian terhadap keberhasilan pembentukan sikap ini terutama adalah melakukan pengamatan/observasi terhadap sikap dan perilaku siswa sehari hari (on going process Assessment) dan produk belajar (port folio hasil belajar sesuai topik bahasan), baik oleh internal maupun external (external evaluation). Penilaian sikap ini dapat menggunakan metode Fish Bein Analisis dengan skala linkert. Dalam metode ini skor perolehan di ukur menggunakan paduan dua pendekatan, yaitu:
• Belive (preferensi siswa), adalah mengukur sikap berdasarkan preferensi siswa terhadap atribut-atribut sikap yang akan dicapai. Dalam jangka panjang melalui pendekatan ini diharapkan mampu membentuk kualitas sikap jujur dan kualitas mental pada diri siswa.
• Evaluasi adalah mengukur atribut-atribut sikap. Pengukuran dapat dilakukan melalui observasi oleh guru/ masyarakat terhadap sikap dan perilaku siswa yang dilakukan secara konsisten, dalam jangka waktu yang relatif lama tanpa melalui pengawasan kusus.

b. Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran bahasa Indonesia pada era global dan era informasi difokuskan untuk membangun kemampuan berkomunikasi secara fungsional, bukan mempelajari bahasa indonesia dari sisi ilmu bahasa (linguistic). Kemampuan berkomunikasi menjadi penting, karena dalam kehidupan bermasyarakat penguasaan berkomunikasi merupakan prasyarat yang amat penting bagi setiap orang. Oleh karena itu arah dari pengajaran bahasa indonesia harus mampu menanamkan kemampuan/kompetensi berkomunikasi bagi para siswa (comucicative skill).

Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, mereka dapat mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan lingkup bidang keahliannya (merecord, melaporkan, mengekspresikan). Tanpa kemampuan berkomunikasi dengan baik, maka seseorang akan sulit untuk mampu memahami lingkungannya dan mengungkapkannya sebagai sumber inspirasi. Kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk mengembangkan karier para siswa dimasa mendatang. Komunikasi bahasa lisan dan tulis amat menentukan keberhasilan seseorang dalam bermasyarakat. Strategi pembelajaran bahasa Indonesia dapat disinergikan dengan program produktif, materi materi produktif dapat dijadikan bahan sesuai dengan topik yang akan di pelajari, sehingga melalui kegiatan ini siswa dapat lebih mempertajam penguasaan kompetensi kejuruan dan sekaligus mampu mengkomunikasikan teknologi yang dipelajarinya.

Contoh:
Salah satu materi/topik bahasan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia adalah teknologi tepat guna. Materi ini dapat diambilkan dari program produktif misal teknologi pembiakan tanaman dengan sistem okulasi.

Substansi materi dapat disiapkan oleh guru produktif sedangkan pembahasan tentang materi bahasa dibahas oleh guru bahasa Indonesia, misal:
• Menyusun resume tentang teknologi pembiakan tanaman dengan okulasi.
• Mengkomunikasikan bibit hasil okulasi melalui media gambar dan narasi, sehingga mampu menumbuhkan kesan positif bagi para pembaca.
• Mengkomunikasikan teknologi okulasi dalam pembiakan tanaman melalui tulisan untuk disajikan dalam seminar, dll.
• Menyusun laporan kegiatan pembiakan tanaman melalui okulasi.
2. Strategi Pembelajaran Program Adaptif

Pembelajaran adaptif di SMK saat ini menurut hasil pengamatan dirasa masih belum optimal dan belum sesuai dengan isi pesan yang ada dalam kurikulum yang diharapkan, akibatnya tujuan pendidikan belum terwujut seluruhnya. Beberapa indikator belum sesuainya proses pembelajaran ini adalah masih kurangnya kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan suatu pekerjaan, kemampuan mengembangkan inovasi/ teknologi belum nampak hasilnya. Kondisi semacam ini mengakibatkan peran adaptif dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia untuk memasuki era global belum berhasil sepenuhnya.

Sebagai contoh kegiatan percobaan/uji coba yang diharapkan sebagai wahana mengembangkan ketrampilan proses dan sikap ilmiah jarang sekali dilakukan. Kegiatan ini bila dilakukan dengan kaidah yang benar akan menjadikan wahana pembentukan sikap berani mengambil keputusan dengan mempertimbangkan resiko, berfikir dan mencari alternatif-alternatif solusi, menerapkan/ mengaplikasikan teori dan prinsip pengetahuan yang sudah dimilikinya dalam kehidupan sehari hari (program produktif) melakukan refleksi (renungan) untuk mengkaji suatu aktifitas agar diperoleh hasil yang terbaik.

Beberapa sikap ilmiah yang perlu dikembangkan antara lain:
• Sikap ingin tahu, diawali dengan mengajukan pertanyaan terhadap peristiwa alam yang terjadi dilingkungan kita, contoh: mengapa cabang yang dicangkok dapat tumbuh akarnya.
• Sikap untuk selalu mendahulukan bukti, proses, dan produk.
• Luwes terhadap gagasan-gagasan baru, pengalaman baru dan bukti baru sesuai perkembangan (perlu sikap luwes)
• Sikap merenung secara kritis, merenung, mengkaji kembali kegiatan yang sudah dilakukan, apakah prosedur perlu di sempurnakan, apakah perlu konsep lain, bagaimana memperoleh hasil yang lebih baik, dll.
• Sikap sayang terhadap mahluk hidup dan lingkungannya, misal tanaman/hewan yang habis digunakan untuk uji coba, dikembalikan lagi kealam dengan baik dan benar.

Manfaat dari pembelajaran adaptif
• Memahami konsep-konsep dan keterkaitannya
• meningkatkan daya nalar untuk memecahkan masalah sehari-hari
• Meningkatkan ketrampilan proses sebagai alat (tool) untuk membangun gagasan baru.
• Menerapkan konsep untuk memahami dan menghasilkan inovasi yang terkait dengan program keahlian yang ditekuninya.
Bagaimana Pembelajaran adaptif agar menarik

a. Pengorganisasian materi

Materi adaptif kususnya matematika, fisika, kimia, dan biologi seyogyanya di kelompokkan menjadi dua; yaitu materi-materi yang misinya untuk mengembangkan basic scien, dan materi-materi ayng misinya untuk mendukung terhadap program produktif

b. Pola pembelajarannya

1) Pola pembelajaran materi yang misinya untuk mengembangkan kemampuan terhadap basic scienc seyogyanya menggunakan pola pembelajaran progresif/konstrutife/inkuiri, yaitu bahwa belajar diartikan sebuah pembangunan gagasan/pengetahuan oleh siswa sendiri. selain peningkatan ketrampilan, juga pengembangan konsep sikap positif. Guru dianggap belum mengajar kalau dalam diri siswa belum terjadi proses pembelajaran (kognitive skill, psikomotorik skill, dan afektive skill).

Dalam pembelajaran progresif ini hal-hal yang harus di perhatikan adalah:
• Siswa harus dilibatkan secara aktif dalam bentuk percobaan-percobaan atau pengamatan suatu proses.
• Sebelum belajar siswa sudah mempunyai pengetahuan terhadap obyek yang akan dipelajari, hanya sering terjadi miskonsepsi, hal ini yang harus diluruskan oleh guru dalam suatu proses belajar.
• Teaching for understanding, bahwa pengajaran itu untuk membangun suatu konsep hasil perumusan siswa berdasarkan informasi yang diperolehnya.

2) Pola pembelajaran materi yang misinya memperkuat/mendung progran produktif.
Materi ini seyogyanya disampaikan dimulai dari pemahaman konsep dasar, dan dilanjutkan dengan implementasiyna pada pogram produktif, sehingga siswa dapat menerapkan kemampuan adaptifnya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Strategi Pembelajaran Program Produktif

Pembelajaran program produktif diarahkan untuk membentuk kompetensi bidang pertanian (spesialis) secara profesional, dan produktif, serta kompetensi-kompetensi lain yang dibutuhkan seseorang untuk memasuki dunia kerja (komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, problim solving, Penguasaan teknologi informasi dan penggunaan konsep matematika).

Proses pencapaian kompetensi program produktif dilakukan melalui pendekatan pembentukan (conditioning) dan penguatan / reinforcement, kegiatan latihan-latihan/magang kegiatan produksi pada TPU.
Dalam melakukan kegiatan produksi, siswa selalu ditekankan untuk menghasilkan produk sesuai sample standar dan mengikuti setandar operasional prosedur. Semua aktifitas siswa dalam melakukan kegiatan produksi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hasil produksi dan pembahasannya diadministrasikan dan diorganisir dalam bentuk portfolio hasil belajar siswa (learning evidence indicator)

Secara umum strategi pembelajaran produktif, dan level kompetensinya secara diagram dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4. Diagram Strategi Pembelajaran dan Level Kompetensi.
a. Pembelajaran program produktif level l

Program produktif level 1 mempunyai misi untuk membentuk basic kompetensi, dengan sifat materi sbb:
• Melaksanakan/melakukan pekerjaan atas dasar instruksi secara detail dan terbimbing.
• Melaksanakan pekerjaan rutin yang hasilnya sudah dapat diprediksi.
• Jenis pekerjaannya sederhana, menggunakan alat-alat manual (hand tools)
Misi dari level ini adalah dalam rangka membentuk perilaku:
• Disiplin
• Taat azas
• Taat prosedur
• Tekun
• Teliti
• Tahan bosan
• Akurasi

Memperhatikan tujuan, dan misi yang akan dicapai, maka pembelajaran level satu ini menekankan pada pembentukan kemampuan bagaimana melakukan suatu pekerjaan dengan benar (How To Do)

Pendekatan pembelajaran yang paling sesuai pada tahap ini adalah menggunakan pengajaran ketrampilan dan tingkah laku yang siap pakai otomatis dan mekanistik yaitu Mental disiplin dan “Behavioristik”. Siswa dalam belajar lebih banyak menerima saja bahan pelajaran yang telah disiapkan secara tuntas oleh guru. Pada masa conditioning pembentukan psikomotorik skill/craftmentship, siswa dilatih melakukan ketrampilan motoriknya secara simulasi sampai diperoleh kemampuan standar, sedangkan proses penguatannya dilakukan secara berulang ulang pada kegiatan produksi. Pada lini produksi siswa melakukan pekerjaan berdasrkan petunjuk kerja dari guru/pengelola TPU dan atau kakak kelasnya, dengan menggunakan prinsip-prinsip senioritas, yaitu bahwa kakak kelas harus mampu mengayomi dan membimbing adik kelasnya, dan adik kelas harus menghormati kakak kelas.

Melalui pendekatan ini yang penting adalah terjadi perubahan tingkah laku external (jasmani). Dalam konsep ini pemahaman tentang jiwa relatif sedikit, yang ada adalah tingkah laku (behavior) dalam rangka pembentukan mental disiplin dan ketrampilan motorik (craftmentship).
Contoh: Kompetensi memupuk

(a). Proses conditioning

Pada tahap ini melalui lembar kerja siswa dibentuk kemampuannya dalam menyebarkan pupuk.
• Penyebaran pupuk dilakukan diatas bedengan tanah kosong (bukan lahan produksi), bahan yang digunakan adalah pasir. Bahan ini dipilih, karena bentuk strukturnya hampir sama dengan pupuk, sehingga ketrampilan yang diperoleh dapat langsung ditransfer untuk penyebaran pupuk, tidak berbahaya bagi siswa, dan harganya relatif murah/dapat diupayakan siswa tanpa harus membeli.
• Latihan ini dilakukan secara terus menerus terhadap seluruh siswa, sampai ketrampilan siswa dalam menyebarkan pasir betul-betul sesuai kriteria (hasil penyebarannya merata) sesuai kriteria yang ditetapkan.

(b). Tahap Penguatan

Pada tahap ini siswa melakukan aktifitas pemupukan pada kegiatan lahan produksi. Waktu, frekuensi dan kriteria disesuaikan dengan SOP yang ber laku. Masa penguatan ini disesuaikan dengan siklus pruduksi, kegiatan produksi, dan tingkat ketrampilan siswa yaitu sampai mencapai tingkat mastery. Peran guru dalam kegiatan ini adalah sebagai pembimbing (dalam status guru), dan sebagai instruktur (dalam status pengelola usaha/TPU) .

b. Pembelajaran program produktif level 2

Level 2 program produktif misi utamanya adalah untuk membentuk kemampuan problem solving/pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam melaksanakan pekerjaan produksi pada bidangnya. Kompetensi level 2 ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Melaksanakan pekerjaan berdasarkan intruksi yang sifatnya global, dengan kemampuan dan pengalaman motoriknya, siswa harus mampu menterjemahkan dan menjabarkan lebih detail dan operasional. Pekerjaan ini dilakukan dengan landasan penguasaan pengetahuan yang memadai.
b) Melakukan problem solving/pemecahan masalah terhadap permasalah-permasalahan yang terjadi di dalam melaksanakan tugas atau dalam mengembangkan metode untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja.
c) Melaksanakan pekerjaan yang lebih komplek.
Kemampuan menggunakan konsep dalam melaksanakan tugas baik untuk mengembangkan metode atau untuk memecahkan masalah yang terjadi agar kegiatan berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan menghasilkan produk sesuai sample standar yang telah disepakati.
d) Melaksanakan pekerjaan yang sifatnya motorik dalam kegiatan produksi. Kegiatan ini merupakan salah satu strategi untuk menjaga agar kemampuan motoriknya tetap handal /pemutahiran kompetensi.

Teori Gestalt (Organistic) mengatakan bahwa belajar merupakan proses keseluruhan, melalui pemahaman, organisasi pegalaman, pemecahan masalah, siswa aktif, dimana aspek-aspek intelektual, sosial, emosional dan personal terlibat dalam keseluruhan proses belajar.

Ciri-ciri pendekatan organistik adalah sebagai berikut:
• Belajar bertitik tolak dari suatu masalah yang perlu dipecahkan.
• Bahan pelajaran bersumber dari kehidupan masayarakat.
• Kegiatan belajar tunduk pada hukum keseluruhan, bukan jumlah dari pada bagian-bagian.
• Penggunaan wawasan, pemahaman, pengertian yang mendalam (insight).
• Siswa belajar sebagai satu keseluruhan dan aktif.
• Keseluruhan pribadi (intelektual, jasmani, sosial emosional, dan personal terlibat dalam proses belajar).
• Metode problem solving (pemecahan masalah).
• Pengembangan kemampuan berpikir kritis dan memadukan teori dan praktik.
Pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk level dua (2) adalah:

1) Pendekatan Inkuiri, guru memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk lebih aktif, siswa diajak untuk merumuskan masalah. Pendekatan inkuiri lebih menekankan pada perolehan kemampuan berpikir kritis dan logis serta kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah kehidupan dan menemukan sendiri jawabannya. Dalam hal ini guru bertindak sebagai fasilitator yang memungkinkan siswa memecahkan masalahnya sendiri.
2) Pendekatan Respektif/constructisme/learning by expe-rience pendekatan ini lebih menekankan pada perolehan pengetahuan. Pendekatan respektif dan inkuiri, dengan bantuan Humanistik dipadukan dengan pendekatan sistemik akan lebih bermakna. Hasil belajar sistemik bukan hanya berupa pengetahuan, tetapi juga terbentuknya tingkah laku (external dan internal), yaitu terjadi perubahan kepribadian siswa secara integral yang bersifat adaptif bukan semata-mata siap pakai atau siap belajar terus. Mengacu pada prinsip-prinsip tersebut maka pembelajaran dilakukan melalui kegiatan berbasis produksi (PBT). Pada level ini peningkatan pemberdayaan program Normatif dalam rangka membentuk karakter kepribadian yang mantap (carakter buiding) dan program adaptif untuk membekali basic scince dalam rangka pengembangan kemampuan berpikir logis, secara terintegrasi akan mampu membentuk manusia profesional dan produktif, yang dilandasi oleh budi pekerti, sikap dan perilaku sesuai dengan kepribadian bangsa.

C. Desain Strategi dan Pendekatan Pembelajaran

Program pembelajaran dengan pendekatan kompetensi, maka desain pembelajaran yang paling sesuai adalah dengan pendekatan satuan unit kompetensi. Upaya pencapaian kompetensi siswa dituangkan dalam desain pembelajaran yang menggambarkan aktifitas belajar siswa, dan layanan guru dalam pencapaian kompetensi standar.

Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses pencapaian kompetensi adalah menggunakan prinsip-prinsip belajar tuntas (Mastery Learning), Berbasis Produksi (Production Based Training), dan pembelajaran berorentasi pada aktifitas siswa (Student Centered Learning).

Secara sistimatis desain pembelajaran ini dirancang sebagai pedoman bagi Manajemen Sekolah, guru, dan siswa dalam proses mencapai kompetensi siswa. Secara garis besar kompetensi siswa yang akan di peroleh melalui desain pembelajaran ini adalah:
• Kompetensi spesialis (Vocational Skill), yaitu kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai prosedur baku dan didukung oleh ketrampilan dan pengetahuan yang memadai, untuk menghasilkan produk sesuai dengan standar.
• Kompetensi personal (Personal Skill), yaitu kemampuan untuk bekerja sama dalam suatu team, berkreasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah pada bidangnya.
• Kompetensi inti (Core Skill), yaitu kemampuan dalam berkomunikasi, penggunaan teknologi informasi, dan penerapan prinsip matematika.

Secara diagram prosedur pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5 . prosedur penyelenggaraan PBM

Penjelasan

Program unggulan
Program unggulan adalah aplikasi kurikulum nasional yang dikembangkan dalam kegiatan proses produksi, dengan memperhatikan kebutuhan dan potensi wilayah, daya dukung SMK, Kebutuhan pasar, ketersediaan sara produksi, dan tingkat kompetensi siswa. Program unggulan dalam proses belajar mengajar dilaksanakan dalam bentuk Training production Unit (TPU). Variasi/kombinasi jumlah produk unggulan dikembangkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor; Pelestarian lingkungan (sustanibility) / kesuburan lahan, Kesehatan tanaman, serta optimalisasi penggunaan lahan, sehingga pola produksi yang dilaksanakan mampu menggambarkan kegiatan agribisnis secara profesional.

Standar Kompetensi
Menjelaskan tentang kompetensi dan kualifikasinya yang akan diperoleh siswa, dan uraian kompetensi, yang memuat informasi tentang:

• Judul Unit kompetensi
• Diskripsi unit kompetensi
• Sub kompetensi/element Competensi
• Kriteria Unjuk Kerja ( Performance Kriteria ) dari setiap sub kompetensi
• Ruanglingkup materi yang akan dipelajari siswa ( Range of Variable )
• Bukti belajar yang dapat menggambarkan keberhasilan belajar siswa (Learning evidance indicator)
• Kompetensi kunci (key Competencies )/core Skill.
• Petunjuk Pengujian ( Assasment Guide )

Standar Bukti Belajar/Learning Evidance indicator
Standar bukti belajar adalah ketentuan-ketentuan dari keseluruhan bukti belajar yang harus dipenuhi, agar siswa berkompeten. Standar bukti belajar ini meliputi:

• Standar Penguasaan pengetahuan (kognitive Skill),bukti belajar dapat berbentuk; resume, klipping, data, jurnal, gambar, dll
• Standar penguasaan psikomotorik sesuai prosedur baku berupa pernyataan (Psikomotorik Skill) simulasi, rekaman unjuk kerja dalam bentuk vidio dll.
• Standar produk (benda kerja) hasil kegiatan praktik yang harus dipenuhi sesuai sample standar, dan atau gambar, foto, dan rekaman vidio dll.

Program Pembelajaran yang disepakati oleh Guru, siswa dan pihak Industri
Mengacu pada unit kompetensi, standar bukti belajar, kompetensi kunci yang harus dipenuhi oleh siswa, guru menyusun program dan desain/rancangan pembelajaran, sedangkan siswa menyusun rancangan kegiatan belajar. Rancangan belajar dan pembelajaran ini sebelum dilaksanakan harus disepakati oleh guru dan siswa, serta mendapatkan persetujuan pihak penjamin mutu dari industri. Rancangan kegiatan pembelajaran dapat dituliskan sbb:
1. Menyusun Desain Strategi Pembelajaran

Rancangan dan strategi pembelajaran sekurang-kurangnya memuat:

a. Bentuk kegiatan pembelajaran
Berisi strategi yang mengarahkan bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan, untuk membentuk profesionalisme siwa dibidangnya dan pembentukan perilaku (kreatif, inovatif, mandiri, mampu bekerja sama, terampil, pemecahan masalah, komunikasi,dan teknologi informasi ).
Untuk level satu, penekananya pada pembentukan kemampuan motorik yang memenuhi standar dan kaidah kerja yang benar. Pembentukan kemampuan motorik di tempuh melalui proses konditioning berupa simulasi, proses pemutahirannya dilakukan pada kegiatan proses produksi.
Untuk level dua, penekananya adalah membentuk kemampuan kognitif untuk tugas-tugas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan pada kegiatan produksi, tanpa mengabaikan pemutahiran motorik skillsnya.

b. Alat bantu belajar
Alat bantu belajar dirancang dan dipilih sesuai dengan strategi dan metodologi pembelajaran, agar dapat memperlancar/ mempermudah siswa dalam belajar.

c. Tugas dan latihan/kegiatan siswa.
Bagaimana gru mendistribusikan pekerjaan, dan kegiatan siswa, agar proses pembentukan ketrampilan berfikir, ketrampilan psikomotorik dan ketrampilan afektif dapat terbentuk melalui kegiatan belajar berbasis produksi. Tugas- tugas itu seperti seperti :
• Pendalaman materi melalui study referensi.
• Pendalaman materi melalui pengkajian fakta yang terjadi dalam proses produksi , untuk menentukan apakah perlu konsep baru, perbaikan prosedur dalam melaksanakan kegiatan produksi.
• Penerapan konsep, prosedur dalam suatu kegiatan produksi.( pengembangan konsep dan pemutahiran psikomotoriknya )
• Penyusunan learning evidence Indicator dari setiap tahapan proses produksi, yang dikemas dalam portfolio hasil belajar.

d. Daftar referensi/sumber belajar
Daftar referensi/sumber belajar secara kusus dirancang untuk dipelajari dan dikaji siswa dalam mencapai tingkat kompetensi sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Referensi ini dapat berupa buku atau ahli yang sesuai dengan kompetensi yang dipelajari.
D. Kegiatan Pembelajaran

1. Penjelasan program

a. Menjelaskan kompetensi dan uraian standar kompetensi kepada siswa tentang:

• Kompetensi yang akan dikuasai dan kriteria keberhasilannya.
• Kegiatan/unjuk kerja apa yang harus dilakukan untuk mencapai kompetensi tersebut.
• Pengetahuan (keluasan dan kedalaman materi) yang harus dikuasai.
• Produk belajar apa yang harus dihasilkan (benda kerja hasil praktik, tulisan, gambar, data dan bentuk evidence lain yang harus dihasilkan.
• Proses evaluasi yang akan dilakukan untuk mengukur keberhasilan belajar siswa.
• Menjelaskan strategi dan metodologi yang digunakan dalam pembelajaran.

b. Menjelaskan tugas-tugas siswa

• Pemahaman konsep/pengetahuan yang harus dipenuhi sebagai dasar dalam melakukan kegiatan produksi dan pengembangannya.
• Melakukan latihan-latihan/simulasi untuk membentuk kemampuan psikomotorik sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan.
• Melaksanakan pekerjaan/tugas pada kegiatan produksi sesuai standar unjuk kerja yang di tetapkan.
• Melakukan pengkajian terhadap setiap kegiatan, untuk mendapatkan metoda yang paling sesuai.
• Menyusun portfolio hasil belajar siswa sesuai standar pada setiap sup kompetensi dan kompetensi.

c. Menjelaskan referensi yang harus didalami untuk memenuhi penguasaan pengetahuan yang dibutuhkan.

• Merekomendasikan referensi sebagai sumber belajar untuk pemenuhan pemahaman konsep dan prinsip.
• Merekomendasikan ahli yang dapat dihubungi untuk mendapatkan informasi sesuai kompetensi yang dipelajari.
• Merekomendasikan obyek kegiatan yang dapat diopservasi untuk mendapatkan wawasan dalam rangka pengembangan metoda.

d. Menjelaskan strategi, metode evaluasi.

• Menjelaskan pendekatan PAP dalam evaluasi.
• Menjelaskan sistem, strategi evaluasi (Eksternal evaluation, dengan proses verifikasi), dan metode evaluasi.
• Menjelaskan kriteria keberhasilan belajar sesuai standar kompetensi (standar operasional prosedur, dan standar produk).
• Menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi siswa dalam mengikuti evaluasi.
e. Melakukan tes terhadap penguasaan awal kompetensi.

• Melakukan tes awal untuk mengetahui kompetensi yang telah dimiliki sesuai dengan kompetensi yang akan dipelajari, dengan menggunakan portfolio hasil belajar yang telah dimiliki. tes ini disebut Recognation of Prior Learning (RPL).
• Melakukan evaluasi terhadap kompetensi yang saat ini sedang ditekuni , dalam melaksanakan kegiatan rutinnya, evaluasi ini desebut (recognation of curent competencies).

f. Melakukan identifikasi terhadap pemahaman suatu konsep yang keliru (misconception)

Melakukan identifikasi dengan memberikan pertanyaan terhadap pemahaman konsep dasar, apabila ada pemahaman yang keliru, selanjutnya guru memberikan tuntunan agar siswa mampu merubah kearah pemahaman konsep secara benar.

g. Memberikan apersepsi

Apersepsi diberikan dengan cara menjelaskan hubungan antara kompetensi yang pernah dipelajari dan kompetensi yang akan di pelajari. Kegiatan ini untuk memudahkan penerimaan konsep baru yang akan dipelajari.

Berdasarkan penjelasan tersebut, selanjutnya siswa menyursun rencana kegiatan belajar. Penyusunan kegiatan belajar dapat menggunakan format 5.

Kegiatan Inti

a. Pengorganisasian kelas.

Pengorganisasian kelas dirancang sesuai dengan tujuan kegiatan belajar, ketersediaan daya dukung, kompetensi yang akan dicapai dan rancangan kegiatan belajar siswa.

Contoh:
1). Apabila siswa dalam satu kelas, mempunyai rancangan belajar yang sama, maka pengorganisasian kelasnya dilakukan secara klasikal. Layanan guru terhadap siswa tetap dilakukan secara individual.
2). Apabila rancangan belajar siswa sebagian sama (strategi, metodalogi), maka pengorganisasian kelasnya dibuat perkelompok sesuai pilihannya.
3). Apabila semua siswa rancangan belajarnya berbeda, maka pengorganisasian kelasnya adalah individual.
b. Kegiatan belajar siswa

Dengan mengacu pada prinsip belajar siswa aktif, belajar berbasis produksi, dan belajar tuntas, maka strategi belajar siswa diarahkan dengan prosedur sbb:
Gambar 6. Proses kegiatan belajar siswa
Penjelasan

1). Informasi adalah sejumlah materi pengetahuan yang harus dikuasi siswa agar siswa mempunyai bekal pemahaman (understanding) yang cukup sesuai dengan tuntutan persyaratan kompetensi yang sedang dipelajari. Pendekatan dalam memperoleh informasi/ pengetahuan pendukung seyogyanya dilakukan oleh siswa secara aktif. Melalui pendekatan ini dalam jangka panjang akan membentuk kompetensi komunikasi, kerja sama, penggunaan teknologi informasi, kemandirian, berani mengambil keputusan, terutama dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan, ketrampilan nalar dll. Pada tahap ini siswa akan melakukan:

a). Proses pemahaman (Understanding)
Pemahaman informasi ini dilakukan dengan pendekatan investigasi, siswa secara aktif dilibatkan dalam proses mencari informasi, dan mencari tahu. Melalui pendekatan ini siswa diharapkan mampu menginterprestasikan informasi, mampu membedakan antara asumsi yang benar dan yang salah. Jadi siswa tidak hanya sekedar mendapatkan informasi, tetapi mendapatkan pemahaman (insight) terhadap kontek yang sedang di tekuninya.
Kegiatan ini dapat dilakukan secara mandiri atau dengan bimbingan guru, siswa menggali informasi, dan merumuskan sesuai dengan standar bukti belajar.

Strategi pengumpulan informasi dapat melalui:
• Mengikuti ceramah dari guru/nara sumber
• Diskusi kelompok
• Belajar mandiri (Investigasi, study pustaka dll)
• Tutorial
• Kombinasi dari strategi yang ada

b). Perumusan informasi
Informasi yang telah tekumpul selanjutnya diorganisir/ diformulasikan menjadi sebuah konsep baru sesuai dengan standar bukti belajar. Kegiatan perumusan ini dapat melalui:
• seminar
• diskusi kelompok
• Tanya jawab
• Tutorial dengan guru pembimbing
• Kombinasi dari pendekatan diatas.
Pemahaman ini selanjutnya digunakan dalam proses produksi melalui project Work.

2). Mengenal Fakta

Proses ini dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan tentang obyek, kejadian, fakta konkrit, dan informasi verbal yang berkaitan dengan kompetensi yang sedang dipelajari. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa sensitif terhadap fakta, termotifasi untuk bertanya tentang informasi yang relevan dll.

Contoh:
Proses perbanyakan tanaman (mengenal fakta pada kegiatan pembibitan oleh pengusaha pembibitan yang berhasil). Melalui observasi diharapkan akan memperoleh data/informasi tentang:
• Bagaimana proses produksi pembibitan dilakukan (teknologinya)
• Mengapa teknologi itu yang digunakan
• Bagaimana implikasinya
• Bagaimana kondisi lingkungannya (aspek teknis geografis dan sosialnya )

3). Refleksi/merenung

Kegiatan ini dilakukan untuk membayangkan project work apa yang dapat dilakukan terhadap informasi/pengetahuan yang telah dikuasai. Kegiatan ini memerlukan kemampuan mengorganisir informasi menjadi konsep baru yang aplikatif. Proses ini diharapkan mampu mendorong siswa untuk menciptakan ide baru, merencanakan pengembangan/ pemecahan masalah secara sistimatis, mengevaluasi gagasan dan memperoleh solusi dari permasalahan.
4). Analisis/sintesis

Proses memecahkan masalah yang timbul untuk melaksanakan hasil renungan antara pemahaman konsep, fakta yang ada, dan kondisi daya dukung di sekolah, sesuai dengan kelompok masalahnya. Caranya adalah mengelompokkan masalah kedalam beberapa kelompok sesuai jenis komponen (SDM, peralatan,infrastruktur, dana dll), sehingga diperoleh kejelasan tentang gagasan serta menetapkan prosedurnya.

5). Penerapan konsep dalam bentuk Project Work.

Berdasarkan pemahaman konsep, hasil analisis dan sintesis, selanjutnya siswa menyusun perencanaan project work. Perencanaan ini meliputi skala usaha, strategi produksinya, teknologi yang digunakan, pembiayaan, jadwal kegiatan, pembagian tugas kelompok (bila kegiatan dilakukan secara berkelompok), dll.
Peran siswa dalam menyusun perencanaan ini adalah memilih jenis projek work, atau menerima jenis projek work yang telah ditentukan oleh guru, dan menyusun alternatif rencana kerja.
Peran guru adalah memberikan layanan/penyediaan akses sumber belajar kepada siswa, memberikan bimbingan/saran, dan menjadi moderator, serta membantu memecahkan masalah.

a). Menetapkan alternatif.

Pengambilan keputusan untuk penetapan alternatif strategi pelaksanaan project work dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan, kebermaknaan dan kesesuaian dengan standar kompetensi.
Peran siswa adalah menetapkan alternatif yang akan dilaksanakan dalam project work. Peran guru menyiapkan daya dukung untuk kegiatan project work.

b). Melaksanakan kegiatan

Pelaksanaan kegiatan project work ini dilakukan sesuai dengan perencanaan dan selalu mengacu pada kriteria standar (proses maupun product). Bila dalam melakukan tahapan kegiatan ada salah satu kegiatan merasa ragu, maka pekerjaan itu jangan dilanjutkan, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan guru, setelah mendapat saran/persetujuan guru, pekerjaan dilanjutkan kembali. Dalam melakukan kegiatan sekaligus siswa harus mengumpulkan learning evidence indicator dari setiap tahapan kegiatan (pengetahuan/ informasi, produk hasil belajar, benda kerja). Pada tahap ini siswa berperan aktif melaksanakan kegiatan produksi (project Work) atas dasar perencanaan dan standar yang ditetapkan.

Peran siswa dalam tahapan ini meliputi:
• Melaksanakan setiap jenis/tahap pekerjaan pada kegiatan produksi, sesuai standar kerja yang ditentukan.
• Memperdalam penguasaan substansi sampai tuntas, dan merumuskannya menjadi konsep baru. Rumusan ini diorganisir kedalam portfolio hasil belajar.
• Melakukan pengkajian dan analisis terhadap proses produksi untuk mengetahui apakah konsep, dan prosedurnya sudah benar, apakah perlu pengembangan konsep/prosedur.
• Mencatat semua aktifitas, dan mengorganisir kedalam portfolio hasil belajar

Guru berperan sebagai pembimbing dan pengendali kualitas proses dan produk, sebagai fasilitator dalam melayani kegiatan siswa.
Dalam proses pembimbingan, guru berperan dalam memberikan:
• Mendemonstrasikan proses pelaksanaan pekerjaan dalam project work.
• Menjelaskan bagaimana mengerjakan tugas dengan benar
• Menjelaskan mengapa tugas itu harus dekerjakan dengan cara tertentu.
• Memonitor dan memberikan kritik terhadap kegiatan siswa, bila ada yang kurang sesuai.
• Membimbing dalam pemecahan masalah yang dihadapi, dengan memberikan pertanyaan pengarah.
• Memperkenalkan pada siswa tentang budaya kerja (efisiensi, tepatwaktu, berorentasi pada mutu, memenuhi ketentuan standar dll)
• Membantu memecahkan masalah dalam melakukan kegiatan produksi( hal-hal yang berkaitan dengan konsep dasar, prosedur, metodologi dll)
• Menjelaskan keterkaitan kompetensi yang sedang ditekuninya dengan peluang usaha serta kegunaannya di dunia kerja.

c). Mengevaluasi proses produksi

Adalah proses pengukuran dan penilaian terhadap setiap tahapan pekerjaan (strategi produksi, metodologi kerja, metodologi belajar, efisiensi dan efektifitas penggunaan bahan produksi, kondisi agroklimat, kondisi lingkungan masyarakat), dan produk yang dihasilkan. Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan hasil kegiatan terhadap kriteria standar (Kualitas produk dan kuantitasnya) untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Evaluasi juga dilakukan terhadap strategi belajar, pertisipasi dan tanggungjawab individu dalam kegiatan produksi/belajar, dll. Kegiatan evaluasi ini dilakukan oleh siswa secara mandiri dan di verivikasi oleh guru. Melalui pendekatan ini dalam jangka panjang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kejujuran dan sistem nilai/mutu pada diri siswa.

d). Umpan Balik

Proses menyampaikan masukan terhadap konsep, prosedur, dan proses produksi berdasarkan kajian ilmiah terhadap implementasi project work. Proses ini sebagai upaya peningkatan mutu terpadu (total quality improvement) untuk memperoleh kesempurnaan suatu proses pembelajaran dan proses produksi. Pendekatan ini bila dilakukan secara konsisten dan terus menerus, diharapkan dapat diperoleh standar operasional prosedur produksi dan pembelajaran.

3. Evaluasi hasil belajar siswa

Penilaian dilakukan untuk membuat keputusan mengenai pengakuan terhadap hasil kegiatan belajar, penilaian dilakukan pada setiap kompetensi. Metoda pengambilan sekor dilakukan dengan beberapa metoda, seperti observasi, pemberian pertanyaan tertulis, wawancara dll. Penentuan metode evaluasi disesuaikan dengan aspek yang akan di ukur. Pada ahir kompetensi hasil penilaian guru dilakukan verifikasi internal, dan eksternal. verifikasi dilakukan dengan menggunakan portfolio hasil belajar siswa.

4. Tahap tindak lanjut

Kegiatan tindak lanjut proses belajar mengajar meliputi:

a. Bagi siswa yang telah memenuhi/menguasai kompetensi dan dinyatakan berkompeten, dapat melanjutkan pembelajaran pada kompetensi berikutnya. Urutan pembelajarn kompetensi seyogyanya mengikuti peta pencapaian kompetensi, agar diperoleh kemudahan dalam belajar.
b. Bagi guru tindak lanjutnya adalah melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap strategi, metodologi pembelajaran agar diperoleh SOP pembelajaran.
c. Dalam proses produksi/pembelajaran, tindak lanjut merupakan penyempurnaan proses produksi. Berdasrkan kajian dan hasil evaluasi proses produksi sebelunya, mungkin ditemukan adanya perbaikan prosedur, perbaikan konsep, perbaikan metoda, perbaikan pengorganisasian kerja dll.
III. EVALUASI DALAM PBT
A. Konsep Evaluasi

SMK Sebagai lembaga pendidikan seksligus industrial training, yang akan mencetak sumber daya manusia berkualitas dengan mengedepankan Keunggulan kompetitif relevansi dan efisiensi.

Ada tiga aspek penting yang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan di SMK, yaitu standar kompetensi sebagai acuan pengembangan program, standar pembelajaran sebagai acuan proses pembelajaran, dan standar pengujian sebagai alat pengendali mutu pembelajaran. Evaluasi sebagai bagian integral dalam Proses Belajar Mengajar dirancang dalam satu sistem yang utuh mulai dari sistem kelembagaan, pengembangan perangkat soal, penyelenggaraan pengujian dan sertifikasinya dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penyelenggaraan kurikulum dan sistem pengujian yang ada.

Pembelajaran dengan pendekatan PBT memiliki karakteristik bahwa ruang lingkup pembelajarannya sangat komplek, yaitu merupakan sekumpulan kompetensi yang diselenggarakan secara terintegrasi dalam bentuk Project Work. Evaluasi sebagai alat pengendali mutu PBM, diarahkan untuk mengukur ketercapaian tujuan instruksional, pencapaian kompetensi siswa dan keberhasilan guru dalam melaksanakan desain instruksional. Hasil evaluasi ini harus mampu memberikan informasi secara benar tentang keberhasilan siswa dalam belajar, hambatan-hambatan selama proses dan kelemahan strategi, metodologi serta kekuatannya.

Dari uraian ini menggambarkan bahwa evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data, pengolahan dan menyajikan dalam bentuk informasi yang akurat terhadap keseluruhan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dikembangkan sistem/prinsip-prinsip evaluasi yang sesuai dengan pelaksanaan project work dalam PBT.

B. Sistem Evaluasi

Evaluasi dalam proses CBT adalah suatu penilaian unjuk kerja seseorang (proses) dibandingkan dengan kriteria pelaksanaan tugas di tempat kerja, dan (produk) dibandingkan dengan kriteria sample produk. Dari hasil pengukuran, selanjutnya melakukan penilaian dan kesimpulan apakah kriteria unjuk kerja dan kriteria produk telah sesuai standar.
Untuk memperoleh informasi yang akurat dan obyektif,maka strategi penilaian menggunakan pendekatan sebagai berikut:
1. Materi evaluasi

Materi evaluasi untuk komponen program normative dan adaptif dilaksanakan secara terintegrasi pada program produktif. Melalui pendekatan ini diharapkan kegiatan evaluasi mampu mengukur/menilai kompetensi siswa secara komprehensif. Dengan pendekatan ini, siswa yang telah dinyatakan berkompeten, maka dia telah menguasai seluruh persyaratan kognitif skillnya (pengetahuan pendukung yang dipersyaratkan termasuk didalamnya kemampuan adaptif nya ), psikomotorik skill dan afektif skillnya ( aplikasi program normative yang terkait langsung dengan kompetensi ). Melalui pendekatan seperti ini, maka keterkaitan dan kebermaknaan program pembelajaran secara fungsional menjadi lebih terasa bermakna dalam pembentukan kompetensi siswa secara utuh.

2. Pendekatan evaluasi

Penilaian keberhasilan belajar siswa, digunakan pendekatan penilaian acuan patokan/kriterian reference assessmant. Pada pendekatan ini Keberhasilan belajar siswa diukur dengan cara membandingkan kompetensi siswa dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan sebagai patokan keberhasilan belajar siswa/ passing grade yang di persyaratkan.

3. Strategi Penilaian

Untuk memperoleh informasi yang lengkap dan obyektif, maka strategi penilaian dilakukan selama proses belajar (on going process), bukan pada akhir proses (ending process). Teknik pengumpulan skor dilakukan pada setiap satuan sub kompetensi pada suatu kompetensi, sehingga secara dini informasi hasil evaluasi dapat digunakan untuk proses tindak lanjut (remidiasi peningkatan pembelajaran). Proses ini secara diagram dapat diilustrasikan melalui gambar sebagai berikut:

Kompetensi. A, Terdiri dari tiga sub kompetensi ( A1, A2, A3)

Gambar 7. Strategi penilaian.
4. Metode Penilaian

Metode Penilaian di tentukan Untuk mendapatkan informasi pencapaian kompetensi siswa secara menyeluruh (kognitive skills, Afektive skills, dan psikomotorik skills). Dengan pertimbangan tersebut, maka metode evaluasi yang digunakan merupakan kombinasi dari berbagai metoda, yaitu:

a. Observasi

Observasi dilakukan untuk mengukur unjuk kerja/kinerja seseorang pada saat melaksanakan suatu pekerjaan pada kompetensi yang sedang dipelajari. Observasi unjuk kerja dilakukan secara terus menerus dari setiap tahapan proses pekerjaan. Alat observasi dapat menggunakan format sebagai berikut:

Format. 1 Format observasi performansi kegiatan belajar siswa

No Sub Kompetensi Rincian Kegiatan Kriteria
Keberhasilan Perolehan
Ya Tidak

b. Pengukuran Kognitive Skills

Untuk mendapatkan informasi terhadap penguasaan pengetahuan (Knowledge) yang dipersyaratkan, dapat melakukan pemberian tes tertulis, wawancara atau tanya jawab.

c. Pengukuran afective Skill / Keterampilan Sikap.
Ketrampilan sikap siswa dapat diukur dengan Fish Bein Analysis. Metode ini dikembangkan oleh Martin Fish Bein.
Aspek sikap yang diukur adalah sikap/perilaku siswa yang terkait langsung dengan kompetensi/sub kompetensi yang sedang dipelajari. Macam-macam sikap/perilaku dalam hal ini disebut atribut-atribut/obyek penilaian. Untuk pengambilan skor dapat digunakan format sebagai berikut:

Format. 2. Format Penilaian sikap siswa

No Atribut Belive Evaluasi
5 4 3 2 1 5 4 3 2 1
1
2
3
4
5

Catatan:
Belive : adalah preferensi siswa terhadap atribut selama melaksanakan kegiatan yang terkait langsung dengan kompetensi/sub kompetensi.
Evaluasi : adalah hasil observasi/penilaian guru kepada siswa terhadap atribut-atribut yang akan dinilai.

Perhitungan skor dapat digunakan rumus:

 (B x E)
S =  x 100
Total nilai tertinggi

B = Belive
E = Evaluasi
Total nilai tertinggi = 5 x 5 x 5 = 125

d. Penilaian Produk

Prooduk (hasil kegiatan produksi)dinilai berdasarkan kesesuaian kriteria dengan sample standar. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan antara produk hasil kegaitan dan kriteria sample standar. Kriteria sample standar meliputi: (a) kriteria kualitas produk; (b) kriteria kuantitas produk, dan (c) B/C Ratio.

5. Verifikasi

Verifikasi sebagai sub sistem dalam proses pengujian/evaluasi di SMK merupakan lingkaran proses jaminan mutu. Proses Verifikasi dilakukan secara bertahap oleh internal verifier (QA) dan External Verifier (QC). strategi ini untuk memastikan bahwa pelaksanaan uji kompetensi telah dilaksanakan sesuai prosedure. Proses verifikasi secara diagram digambarkan sebagai berikut:

Gambar 8. Proses pengujian dan verifikasi hasil belajar

a. Verifikasi oleh Internal

Verifikasi ini dilakukan untuk meyakinkan/menjamin bahwa proses pembelajarani telah dilaksanakan dengan benar (prosedunrya, perangkatnya, metodanya dan obyektivitasnya) sehingga diperoleh gambaran kompetensi siswa secara obyektif tanpa adanya Hallo Effect maupun Horns Effect. Kegiatan ini dilakukan agar hasil evaluasi, kelengkapan dan kebenaran port folio hasil belajar siswa sesuai standar kompetensi.

(b) Verifikasi oleh Eksternal

Verifikasi dilakukan oleh industri/LSP untuk menjamin kualitas pembelajaran dan pengujian dalam rangka pencapaian standar kompetensi.
Pelaksanaan eksternal verifikasi ini dilakukan dengan menggunakan bahan portfolio hasil belajar siswa. Eksternal verifier dalam melakukan verifikasi dapat menggunakan metoda:

1). Observasi/simulasi, metoda ini digunakan untuk mengukur kemampuan psikomotorik/performance siswa.
2). Pemberian tes, memberi pertanyaan (tertulis, tanya jawab, wawancara) dalam mengukur kemampuan kognitive skill siswa.
3). Membandingkan hasil produk belajar dan sample produk.
4). Klarifikasi bila terjadi perbedaan nilai antara hasil penilaian guru dan hasil verifikasi. Klarifikasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai dengan standar bukti belajar berdasarkan kelengkapan, kesempurnaan portfolio, kemampuan siswa dalam kognitive skill-nya, kemampuan kinerja maupun sikap perilakunya sesuai dengan kompetensi yang sedang dinilai.
IV. PERAN LEMBAGA, GURU, DAN SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN

A. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran

1. Proses Perencanaan Pembelajaran

Penyusunan program/rencana pembelajaran terintegrasi dengan proses produksi, meliputi komponen komponen:

a. Menyusun jadwal pembelajaran terintegrasi dengan proses produksi

Jadwal pembelajaran disusun dengan memperhatikan kegiatan produksi, tingkat kompetensi siswa dan rancangan pembelajaran, yaitu:
• Jadwal kegiatan belajar siswa disusun mengacu pada; peta pencapaian kompetensi, Kegiatan proses produksi,dan sifatkegiatan, serta psikologi siswa.
• Keterkaitan antar unit kompetensi dengan program adaptif dan normatif.
• Proses konditioning dalam rangka memberikan kemampuan awal sesuai syarat minimal yang ditetapkant untuk dapat masuk pada lini produksi.
• Proses penguatan/pemutahiran kompetensi dilakukan dilini produksi. Strategi pembelajarannya mengikuti kegiatan produksi, sampai kompetensi siswa mencacapai mastery.

b. Menetapkan strategi dan metodologi pembelajaran.
Strategi pembelajaran dipilih berdasarkan sifat materi/kemampuan yang akan di pelajari, agar mampu memberikan kemudahan belajar siswa dan menanamkan/ membentuk perilaku ; kreatif, inovatif, mandiri, trampil, profesional, mampu bekerjasama, mampu memecahkan masalah, mampu berkomunikas, dan mampu menggunakan sumber belajar dll. Identifikasi strategi pembelajaran dapat diidentifikasikan dengan menggunakan format sbb:

Format. 3 Format analisis strategi pembelajaran

No

Sub Kompetensi Strategi Pembelajaran
Keterangan
kelas Lab lahan TPU

2. Menyusun alat bantu pembelajaran disesuaikan dengan metode pembelajaran. Alat bantu ini dipilih untuk memperlancar dan mempermudah proses belajar siswa. Identifikasi jenis alat bantu yang digunakan dalam setiap materi dapat dituangkan dalam format sbb;

Format. 4 Format analisis kebutuhan alat bantu pembelajaran

No
Sub Kompetensi Strategi Pembelajaran Metodologi
Pembelajaran Jenis Alat bantu pembelajaran yang dibutuhkan

2. Merumuskan tugas-tugas dan latihan siswa.
Tugas-tugas siswa di rancang dalam rangka proses membelajarkan siswa secara aktif. Tugas ini harus memperhatikan kompetensi dan sub kompetensi yang akan dicapai. Daftar jenis tugas siswa dalam setiap sub kompetensi/materi dapat dituangkan dalam format sbb;

Format. 5 Format analisis tugas belajar siswa

No Sub Kompetensi Tugas Siswa Produk
d. Menyusun daftar referensi
Referensi dipilih secara kusus untuk dipelajari siswa dalam mencapai kompetensi, dan sasaran belajar.

Format. 6 Format analisis kebutuhan referensi belajar siswa

No Sub Kompetensi Materi Referensi Keterangan
e. Menyusun perangkat evaluasi hasil belajar siswa
Perangkat Evaluasi hasil belajar siswa disusun untuk mengukur penguasaan Kompetensi. Perangkat yang disusun meliputi Perangkat soal untuk kognitive skills, Psikomotorik skill, dan afektive skills. Perangkat soal meliputi: Soal, pedoman penilaian, dan kunci jawaban.

f. Pelaksanaan PBM
Dalam kegiatan PBM terdiri dari tahapan kegiatan yang harus dilakukan guru yaitu :

1).Menjelaskan program pendidikan yang ada di SMK, meliputi; struktur program, level kompetensi yang ada, jumlah kompetensi yang harus di selesaikan oleh siswa pada setiap level, dan peta pencapaian kompetensi, serta waktu yang dialokasikan dalam pembelajaran.

2).Menjelaskan kompetensi dan uraian standar kompetensi meliputi;
a. judul kompetensi, yaitu kompetensi yang akan dipelajari, dan harus di kuasai siswa.
b. diskripsi unit kompetensi,menjelaskan tentang keterkaitan kompetensi yang di pelajari dengan kompetensi lainnya, dan penjelalasan kegunaan kompetensi ini pada bidang pekerjaan yang relevan.
c. subkompetensi,adalah sasaran antara yang harus dicapai siswa untuk mencapai kompetensi
d. kriteria unjuk kerja, adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan akan diuji untuk menentukan keberhasilan pencapaian sub kompetensi.
e. Ruang lingkup materi, yaitu luasan materi yang harus di pelajari siswa untuk mencapai kompetensi.
f. Bukti belajar, yaitu terdiri dari komponen pengetahuan, ketrampilan,dan sikap, serta produk hasil kegiatan praktik yang harus dikuasai dan dihasilkan siswa untuk mencapai kompetensi.
g. kompetensi kunci, yaitu kompetensi yang mendukung untuk bekal hidup di masyarakat, levelnya disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap kompetensi yang sedang dipelajari.
h. Petunjuk pengujian, yaitu berisi petunjuk bagai mana evaluasi kompetensi hasil belajar siswa akan dilakukan ( lembaga penguji, kualifikasi penguju, waktu dan jadwal pengujian , prosedur pengujian, dan peran siswa dalam pengujian.
i. Menjelaskan standar bukti belajar meliputi ;
• Produk belajar apa yang harus di hasilkan siswa dan dapat menunjukkan bahwa siswa telah cukup menguasai pengetahuan yang di persyaratkan oleh kompetensi yang di pelajari ( ringkasan, kliping, jurnal, dll )
• Produk belaja (benda kerja) yang harus dihasilkan siswa sebagai indikator bahwa siswa telah berkompeten.
• Psiokomotorik apa yang harus didemonstrasikan , untuk menunjukkan bahwa seseorang di katakan berkompeten.

j. Mengorganisir kegiatan belajar siswa.
Menyusun kelompok belajar berdasarkan rencana kegiatan belajar yang disusun oleh siswa.
1). Mengorganisir kegiatan belajar siswa.
Menyusun kelompok belajar berdasarkan rencana kegiatan belajar yang disusun oleh siswa (individu, kelompok-kelompok kecil).
2). Memfasilitasi proses pencarian informasi, dan perumusan informasi sesuai dengan ilmu pengetahuan yang di persyaratkan oleh kompetensi.
3). Memberikan proses kondisioning untuk membebentuk psikomotorik siswa sesuai kriteria unjuk kerja, sebelum siswa masuk lini produksi, agar tidak menimbulkan kerugian pada TPU.
Layanan guru kepada siswa dalam proses pemahaman konsep, dan pembentukan psikomotorik, diberikan secara individual sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing siswa. Dari dimensi pembelajaran bidang pertanian, ada dua komponen utama yaitu tentang kompetensi bidang pertanian, dan metodologi pembelajaran pertanian.
Ditinjau dari kompetensi kejuruan pertanian, seorang guru harus mampu mentransfer kompetensi dan teknologi yang berkembang dan dibutuhkan di dunia kerja sesuai dengan ruang lingkup kompetensi yang dibutuhkan siswa.
Ditinjau dari metodologi/desain pembelajaran, guru harus mampu menyiapkan kegiatan belajar yang dapat membentuk kompetensi siswa sesuai dengan standar kompetensi yang akan dipelajari. Dari fungsi ini maka proses pembelajaran mengutamakan bagaimana siswa dapat belajar secara aktif, sehingga mampu memberikan pemahaman (understanding) dan penghayatan/ penjiwaan terhadap perilaku yang ada pada setiap kompetensi dan mampu bertindak sesuai prosedur, serta menghasilkan produk sesuai ketentuan standar, sehingga berkompeten.

4). Memfasilitasi penerapan psikomotorik skill, dan kognitive skill untuk kegiatan produksi.
Dalam proses produksi meliputi kegiatan sbb:
• Menyusun perencanaan produksi, peran guiru adalah memberi pengarahan dan bimbingan.
• Menyusun alternatif kegiatan, peran guru adalah menjadi moderator dalam pengambilan keputusan, memberi pertyanyaan pengarah.
• Pelaksanaan produksi, peran guru adalah memfasilitasi, dengan menyiapkan alat dan bahan yang di butuhkan untuk kegiatan produksi, dan atau memberikan bimbingan bila di perlukan.
5). Melakukan koreksi ( memberikan komentar atau bimbingan) terhadap kesesuaian port folio hasil belajar siswa.
6). Melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar siswa, meliputi aspek kognitive skill, psikomotorik skill, dan afective skill.

B. Peran Siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
1. Orentasi Program.
a. Memahami program pembelajaran.
Pemahaman siswa terhadap program pembelajaran di SMK/profile kompetensi tamatan harus mantap, sebelum siswa memulai belajar. Pemahaman ini di maksudkan agar siswa memahami benar terhadap kompetensi yang akan di kuasai dan kriteria keberhasilannya, sehingga siswa dapay menyiapkan/menata dirinya dalam mengikuti program pembelajaran.
Pemahaman sistem penyelenggaraan pendidikan dan strategi pembelajarannya, level kualifikasi kompetensi yang ada keterkaitannya dengan penyelenggaraan Multi Entry dan Multi Ekxit.

b. Memahami kompetensi dan uraian standar kompetensi. Pemahaman kompetensi dan uraian standar kompetensi adalah mutlak bagi siswa, sebelum proses pembelajaran dilakukan. Pemahaman kompetensi dan uraianm standar kompetensi meliputi ; judul kompetensi, diskripsi kompetensi, subkompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup materi yang harus dipelajari, ilmu pengetahuan yang di persyaratkan, ketrampilan, sikap, bukti belajar yang harus dipenuhi, dan diorganisir menjadi portfolio hasil belajar siswa, kompetensi kunci, dan petunjuk pengujiannya. Melalui pemahaman kompetensi dan standar kompetensi, diharapkan siswa dapat berperan secara aktif dalam proses belajar, untuk mencapai tingkat kompetensi sesuai standar.

c. Memahami strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang harus diketahui oleh siswa adalah:

• Pembelajaran dilakukan melalui production based training, artinya bahwa proses pembelajaran (pembekalan pengetahuan, ketrampilan dan sikap) dipelajari untuk memenuhi tuntutan kompetensi. Pencapaian kompetensi ini diperoleh dan di aplikasikan dalam kegiatan produksi).
• Selama proses belajar siswa diwajibkan menyusun portfolio hasil belajar siswa, sesuai standar learning evidence indicator, dan batasan waktu pemenuhan yang telah ditetapkan.
• Pembelajaran dilakukan melalui pendekatan siswa aktif, artinya bahwa proses penguasaan kognitive skill, psikomotorik skill,dan afektive skill dilakukan secara aktif oleh siswa, guru hanya memberi stimulus, memfasilitasi proses belajar siswa dan memberikan bimbingan sesuai kebutuhan siswa secara individual.
• Keberhasilan belajar siswa ditetapkan berdasarkan kemampuan siswa dalam memenuhi standar kompetensi, melakukan proses produksi dengan mengikuti prosedur tetap, dan menghasilkan produk sesuai sampel standar.
• Proses evaluasi hasil belajar siswa dilakukan melalui pendekatan PAP, dan eksternal evaluation, yang dilakukan oleh Pihak industri/lembaga sertifikasi dengan melakukan verifikasi portfolio hasil belajar siswa.

2. Perencanaan Belajar Siswa.
Berdasarkan rancangan pembelajaran yang disusun oleh guru, siswa
menyusun perencanaan pengumpulan informasi / pengetahuan pendukung yang sesuai dengan standar bukti belajar, selanjutnya siswa menyusun rencana kegiatan belajar siswa. Rancangan belajar dapat di buat dalam format sbb:

Format. 7 Format rancangan belajar siswa

No Kegiatan Pelaksanaan Alasan Perubahan bila Diperlukan Paraf
Waktu
tempat Siswa Guru
Tgl Jam
Menyetujui Cianjur, 19 Desember 2002
( g u r u ) ( s i s w a )

3. kegiatan belajar siswa.

a. Pengumpulan informasi tentang pengetahuan yang diperlukan untuk menguasai kompetensi yang dipelajari, dan merumuskannya menjadi pengertiannya sendiri, yang dituangkan dalam sebuah resume.
b. Penyamaan persepsi dengan siswa lainnya, melalui kegiatan diskusi yang di moderatori/dikoordinir oleh guru. Hasil rumusan dan kesepakatan, difail dan dikelola menjadi port folio hasil belajar.
c. Mengenal fakta dilapangan terhadap implementasi kompetensi yang sedang di pelajari.
d. Melakukan refleksi/renungan tentang konsep yang pernah dipelajari dengan membandingkan fakta yang telah di observasi.
e. Melakukan sintesis dan analisis untuk mengetahui kelompok masalah dalam rencana implementasi, yang selanjutnya dicarikan alternatif pemecahan masalahnya.
f. Secara kelompok atau individu, siswa menyusun rencana implementasi dalam kegiatan project work.
g. Menentukan alternatif / mengambil keputusan terhadap strategi dan metoda pelaksanaan project work yang akan dilaksanakan.
h. Melaksanakan projet work sesuai dengan rencana dan prosedur).
i. Melakukan prosedur tetap (SOP pemasaran produk sesuai rencana pemasaran yang telah disusun.
j. Menyusun learning evidence indicator / portfolio hasil belajar, sesuai dengan standar bukti belajar yang telah ditetapkan.
k. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar,dengan cara membandingkan dengan kriteria standar yang telah ditetapkan.
l. Menyusun rekomendasi berdasarkan data kegiatan dan kajian secara ilmiah terhadap seluruh aspek kegiatan project work, untuk penyempurnaan proses project work yang akan datang (perbaikan prosedur, penyempurnaan proses, dan penggunaan konsep baru).

4. Pengumpulan / pengorganisasian portfolio.
Portfolio hasil belajar siswa disusun sebagai learning evidence indicator, yang dapat dijadikan salah satu bukti fisik penguasaan kompetensi . Port folio ini disusun berdasarkan kegiatan belajar siswa mengacu pada rancangan belajar yang telah disepakati antara guru, siswa, dan industri penjamin mutu. Melalui penyusunan portfolio hasil belajar siswa , maka secara sistimatis aktifitas belajar siswa ( keberhasilan dan kegagalan belajar) dapat ditelusuri kembali.
Setiap hasil kegiatan belajar, baik dalam penguasaan kognitive skill, psikomotorik skill, dan afective skill, didokumentasikan dalam bentuk portfolio hasil belajar, sesuai standar bukti belajar. Format pengumpulan portfolio hasil belajar dapat menggunakan format sbb:

Format. 8 Format pengorganisasian portfolio belajar siswa

Nama :
NIS :
Program Keahlian :
Kompetensi :
Level :
No Sub kompetensi Jenis Portfolio Komentar P araf
Siswa Guru

Cianjur, Desember 2002

Mengetahui:

( Guru ) ( siswa )
5. Mengikuti evaluasi belajar.
Setiap seleasi mempelajari sub kompetensi, siswa akan dievaluasi penguasaan kompetensinya, apakah sudah memenuhi atau belum. Evaluasi dilakukan terhadap penguasaan kognitive skill, psikomotorik skill, dan afektive skill, serta kesesuaian produk dengan kriteria standar produk / sample standard. Setiap selesai mempelajari satu kompetensi, hasil belajar siswa akan di verifikasi oleh internal ferifier/penjamin mutu dan eksternal ferivier. Proses ferifikasi dapat menggunakan portfolio hasil belajar siswa,mengacu pada standar kompetensi yang sedang di pelajari.

C. Peran Manajemen Sekolah
1. Menyelenggarakan TPU.
Keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran berbasis produksi di SMK, sangat dipengaruhi oleh terselenggaranya TPU yang dikelola secara profesional. Tuntutan ini dapat ditinjau dari dua dimensi yaitu:
a. Secara psikologi bahwa lingkungan sekolah yang dikelola dengan baik, akan mampu mempengaruhi perilaku masyarakat yang ada dilingkungan sekolah untuk berperilaku baik, karena belajar merupakan proses keseluruhan, melalui pemahaman, organisasi pegalaman, pemecahan masalah, dimana aspek-aspek intelektual, sosial, emosional menyatu dalam satu proses. Satu hal yang sulit untuk mendapatkan tamatan profesional, memiliki etos kerja tinggi, motifasi berprestasi, mampu berproduksi/berusaha dibidang agribisnis, bila mereka di didik pada lingkungan sekolah yang iklimnya tidak mencerminkan nilai-nilai seperti yang diharapkan.
b. Secara operasional, bahwa penyelenggaraan pembelajaran berbasis produksi dirancang agar guru dan siswa secara aktif mempunyai pengalaman dan kemampuan untuk melakukan kegiatan usaha dibidang agribisnis, sesuai dengan kaidah kerja yang benar dan hasil kerja (produk) sesuai standar. Tujuan ini hanya akan dapat dicapai kalu sekolah mempunyai kegiatan produksi yang dikelola secara profesional. Penyelenggaraan TPU dalam proses pembelajaran berperan sebagai:
• Sumber pembiayaan kegiatan pembelajaran.
• Laboratorium tempat kajian dan sumber informasi bagi guru dan siswa dalam pengembangan materi belajar.
• Wahana belajar yang riel bagi siswa dalam pengkajian, penerapan informasi, peningkatan performansi, dan penajaman intuisi/kepekaan dalam menangani setiap tahapan usaha dibidang pertanian.
• Pembentukan sikap dan tatanilai budaya kerja bagi siswa, masyarakat , dan warga sekolah.

2. Sekolah Sebagai Centre bagi Masyarakat.
Dalam jangka panjang penyelengaraan pembelajaran berbasi produksi, akan meningkatkan kepercayaan masyarakat pada profesionalisme sekolah, terutama para alumni yang mempunyai profesi usaha agribisnis dibidang pertanian. Sebagai centre sekolah diharapkan mampu berperan sebagai:
(c) Pusat informasi dan inovasi dalam kegiatan agribisnis .
(d) Penghubung antara masyarakat (siswa, alumni yang melakukan usaha), dengan dunia usaha dalam pengembangan produksi.
(e) Distributor pengadaan/pemenuhan sarana produksi (Saprodi).
(f) Distributor terhadap pemasaran/penyaluran produk pertanian.

3. Membentuk Team Pengendali mutu
Penyelenggaraan pembelajaran berbasis produksi tidak dapat dilaksanakan secara konvensional (Strategi dan metodologi, penjadwalan, dan sistem evaluasinya). Untuk menangani kegiatan ini tidak dapat diserahkan kepada masing-masing guru secara terpisah.
Peranan team pengendali mutu adalah :
a. Memanage penyelenggaraan pembelajaran, terutama dalam pengaturan waktu/ penjadwalan antara program produktif, normatif, dan adaptif, sehingga guru pengelola TPU dapat berkonsentrasi dalam kegiatan produksi dan pembelajaran.
b. Melaksanakan jaminan mutu terhadap standarisasi proses PBM.
c. Melakukan jaminan mutu terhadap standarisasi proses produksi.
d. Melakukan jaminan mutu terhadap standarisasi proses evaluasi dan sertifikasi hasil belajar.

Komentar
  1. pai mengatakan:

    Tulisannya sangat bermanfaat sekali untuk pendidikan, namun kiranya perlu dicantumkan nama penulisanya

  2. muhammad awaluddin mengatakan:

    mantap browww, suwun yaaa

  3. aji rubiyanto mengatakan:

    pak … materi ini menarik sekali mohon kiranya … untuk penulisan karya ilmiah saya ” pembelajaran berbasis produksi ” kira kira apa yah definisinya …, metode yang digunakan, … dan referensinya yang mendukung kekaryaan saya ? mohon bantuan nya ya pak… sekali lagi terima kasih

  4. nandi mengatakan:

    saya minta materinya ya min terimakasih banyak

  5. isnandar mengatakan:

    Tulisannya mantap….tolong dong nama penulis dicantumkan. mks.

  6. indri mengatakan:

    daftar pustaka kok tidak dicantumkan?

  7. eko mengatakan:

    ini namanya pemebelajaran terintegrasi , kayaknya blm ada smk yg menerapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s